MENGOPTIMALKAN DAYA PIKIR MENGGUNAKAN TEKNIK MIND MAP

Pendahuluan
Setiap hari, jika kita terus mengikuti pemberitaan di berbagai media, hampir dipastikan kita merasa miris sendiri. Pemberitaan negatif (korupsi, pelanggaran HAM, rekayasa kasus, dll) akan lebih unggul jumlahnya jika dibandingkan dengan pemberitaan yang positif (pelayanan pendidikan yang berkualitas, pelayanan kesehatan yang pro rakyat, pelayanan administrasi kependudukan yang baik, dll). Bukan anti dengan pemberitaanya melainkan miris dengan keadaan yang diberitakan. Diskusi publik di televisi hanya semakin membuka kedok kelemahan dan kebobrokan kita. Usulan solusi untuk permasalahan di berbagai bidang, boro-boro dilaksanakan; didengarpun mungkin tidak oleh si empunya kekuasaan. Hanya menjadi wacana, retorika belaka.
Banyak orang pintar di Indonesia, hanya saja mereka tidak terakomodasi atau terlibat dalam pengelolaan pemerintahan yang baik. Ironisnya, mereka yang sudah terakomodir dalam pemerintahan (kabinet) maupun mereka yang terakomodir dalam parlemen yang notabene menjadi wakil kita sebagian besar terjerembab dalam kubangan sistem yang korup. Dan, energi kita hampir habis untuk sekedar menyaksikan pemberitaan-pemberitaan yang memuakkan tersebut. Memprihatinkan.
Kapan pemimpin-pemimpin kita akan merangkul dan memfasilitasi anak-anak muda generasi penerus bangsa untuk ikut memikirkan kemajuan bangsa ini ke depan? Sementara tidak sedikit generasi kita yang sudah terbawa arus hedonisme, konsumerisme, dan pragmatisme. Mereka acuh, putus asa, karena tak ada teladan dan idola sekaliber Bung Karno dan Bung Hatta.
Di sisi yang lain, pendidikan yang seharusnya menjadi pondasi kemajuan bangsa juga tak kalah miris. Guru-guru sekolah dasar dan menengah kehilangan ruh pembelajaran, makna belajar menjadi samar-samar, bahkan kabur. Bagaimana tidak? Sebagian besar dari mereka hanya mengejar tingkat kelulusan 100%. Proses pembelajaran bukan lagi mejadi prioritas, yang utama adalah kelulusan. Sehingga ada ungkapan di kalangan pelajar kita “belajar santai ujian tercapai”. Miris bukan? Kasus nyontek massal yang sempat mencuat beberapa waktu yang lalu di media hanyalah puncak gunung es. Pun kasusnya telah menguap, tidak menjadi pelajaran berharga oleh kita, terutama bagi para praktisi pendidikan, bahkan hilang oleh hingar bingar remisi untuk koruptor, kasus Nazarudin, Gayus yang tertipu 4 milyar, surat palsu MK.
Hasil survei tiga lembaga Internasional (Progress in International Reading Literacy Studi (PIRLS 2006), Programme for International Student Assesment Study (PISA 2006), dan Trend in International Mathematics and Science Study (TIMSS 2007)) terhadap kemampuan siswa Indonesia juga sangat mengecewakan. Hasilnya, kemampuan siswa Indonesia bahkan hampir tidak ada yang dapat menjawab soal-soal yang menuntut pemikiran tingkat tinggi (www.kaltimpost.co.id : 29-10-2009).
Kita semestinya bisa belajar dari Jepang, yang dulu memiliki kekuatan luar biasa. Bahkan dikenal sebagai “macan asia”. China, Korea, bahkan Indonesia pernah merasakan perih oleh kekuatan fisik (militer) Jepang. Demikian pula beberapa negara di Eropa bahkan Amerika. Sehingga pada tahun 1945, Jepang dijatuhi bom oleh Amerika. Tamatlah penjajahan oleh Jepang di beberapa negara di Asia termasuk Indonesia. Apa yang dilakukan Jepang? Mereka bangkit, tidak lagi menggunakan kekuatan fisik tetapi kekuatan otak. Tamat tak berarti mati. Banyak pelajar-pelajar Jepang dikirim ke luar negeri untuk belajar dan dibiayai oleh negara. Sekembalinya mereka ke tanah air, membangun kekuatan ekonomi dan ilmu pengetahuan. Sehingga hari ini, kita bisa saksikan; betapa majunya Jepang, jauh melampaui kita yang hingga saat ini masih tertatih-tatih mencari bentuk dan jati diri. Padahal, para pendiri bangsa kita telah meletakkan pondasi Bhineka Tunggal Ika. Tetapi, nampaknya kita belum cukup mampu menggali maknanya.
Ada yang salah dengan negeri ini, tapi tak perlulah kita menyalahkan di luar kita. Marilah kita menilik pribadi kita masing-masing. Sudahkah kita menjadi diri sendiri? Sudahkah kita melihat dengan pikiran dan hati? Sudahkah kita membuka kedua mata kita dengan seksama? Sudahkah kita membuka kedua telinga kita dengan cermat? sudahkah kita membuka kedua belahan otak kita seluas-luasnya? Sehingga kita mampu menjadi generasi yang mampu menyelami makna, mampu memahami bahkan menawarkan solusi untuk suatu masalah, bukan membuat masalah atau menambah ruwet suatu masalah.
Kali ini saya akan berbagi informasi, sebagai salah satu dari sekian banyak cara untuk mereformasi diri. Berangkat dari inspirasi yang saya peroleh dari buku yang berjudul “TITIK BA” yang pengarangnya putra dari Tegal lulusan Teknik Industri ITB, mas Ahmad Thoha Faz yang juga pernah mengisi kajian dan diskusi di IMT. Pemikiran yang saya dapat adalah bahwa kita hanyalah sebuah titik atau noktah kecil bila kita dilihat dari salah satu sudut di belantara cakrawala alam yang luas tak terhingga. Bahkan bumi pun juga hanya sebuah titik bila kita memandang dari galaksi tetangga. Namun titik bukan tanpa arti, dari sebuah titiklah semesta ini ada. Karena tanpa titik tak akan ada garis, tanpa titik tak akan ada bangun datar, tanpa titik bahkan tak akan ada ruang. Oleh karena garis, bangun datar, bangun ruang memerlukan titik sebagai acuan pandang. Dari buku “TITIK BA”, saya seperti diarahkan untuk membaca buku-buku yang lain yang tentunya menurut saya berkaitan dengan cara pandang baru yang saya dapat dari “TITIK BA”. Dan, akhirnya saya membaca buku yang berjudul “BUKU PINTAR MIND MAP” dengan pengarang Tony Buzan yang notabene adalah penemu Mind Map itu sendiri. Buku bacaan lain yang juga tentang Mind Map adalah karangan Femi Olivia dan Sutanto Windura.
Apa itu Mind Map? Apakah Mind Map mampu mereformasi diri kita? Apakah Mind Map dapat membantu membuat cara pandang baru terhadap suatu masalah? Apakah Mind Map mampu mengoptimalkan daya pikir kita? Silahkan simak pada bab pembahasan.
Pembahasan
Secara tidak sadar, kita telah sekian lama menggunakan otak kita tapi tidak maksimal. Bahkan, menurut penyelidikan manusia rata-rata baru menggunakan potensi dan kapasitas otaknya kurang dari 1 %. Padahal Menurut Rosenweig :
apabila dalam satu detik saja kita bisa mengingat 10 informasi baru, jika terus mengingat informasi-informasi baru tanpa berhenti selama 100 tahun ke depan, kita baru mempergunakan kapasitas otak kita kurang dari 10 % saja. Bahkan hasil penelitian yang lebih ekstrim lagi, yaitu oleh pakar otak dari Rusia, Anokhin; dia mengatakan bahwa otak kita mempunyai kemampuan mengingat informasi sebanyak angka 1 yang diikuti angka 0 yang panjangnya 10.500.000 km.
Apakah benar, kita menggunakan kemampuan otak kita dengan tidak maksimal? Sebagai contoh, dulu ketika kita menjadi siswa sejak Sekolah Dasar dan Menengah atau bahkan mungkin ketika di Perguruan Tinggi; kita mencatat pada buku tulis bergaris lurus, pulpen satu warna, dan tidak variatif. Mencatat dengan cara demikian hanya melibatkan kerja otak yang parsial, yaitu menstimulasi respon otak kiri saja. Atau, ketika sedang membaca, berbicara, dan mendengarkan berarti kita sedang menggunakan otak kiri. Begitu juga saat kita membuat prioritas pekerjaan dan membuat rincian atas suatu hal yang sifatnya umum mula-mulanya kita juga sedang menggunakan otak kiri. Jadi sudah sejak lama kita hanya terus–menerus menstimulasi otak kiri kita tanpa secara intensif melatih juga otak kanan. Akibatnya daya pikir kita tidak seimbang karena otak kanan kita banyak menganggur. Dalam belajar ataupun bekerja, kita mestinya mampu membangkitkan gairah otak untuk berpikir dan menggali informasi menjadi ide baru yang lebih produktif. Materi atau informasi yang disimpan otak tidak akan berarti apa-apa jika kita tidak mampu mengelola kerja otak secara baik. Dengan kata lain, kita juga harus memperlakukan otak dengan ramah sesuai dengan cara kerja otak yang alami dan wajar.
Pengertian otak kanan dan otak kiri pertama kali diperkenalkan oleh Sperry yang melakukan penelitian tentang otak. Hasilnya, otak kita terdiri dari dua belahan yang sering dikenal dengan otak kanan dan otak kiri yang masing-masing memiliki tugas berbeda. Tugas otak kanan antara lain : irama, kesadaran ruang, imajinasi, melamun, warna, dimensi, dan tugas-tugas yang membutuhkan kesadaran holistik atau gambaran keseluruhan. Tugas-tugas otak kiri termasuk kata-kata, logika, angka, daftar dan analisis. Atas penelitian ini Prof. Roger Sperry kemudian mendapatkan nobel. Dari penelitian ini pula Tony Buzan terinspirasi mengembangkan Mind Map.
Otak kita akan mampu mengelola informasi apapun dengan sangat baik apabila kedua belahan otak mampu bekerjasama dan saling sinergis. Untuk itu dikembangkanlah Mind Map Oleh Buzan yang menurutnya mampu menyeimbangkan cara kerja otak secara bersama-sama dan sinergis.
Di atas disebutkan otak harus dilibatkan dalam belajar dan bekerja secara alami dan wajar. Maksudnya adalah, secara alami otak akan mudah terkesan dan dapat menyimpan informasi dalam waktu yang lama apabila informasi tersebut menarik. Salah satu contoh yang membuat otak mudah terkesan adalah pada gambar dan sesuatu yang warna-warni. Sebagai contoh, ketika kita berkenalan dengan seseorang, kita akan lebih lama mengingat wajahnya daripada namanya. Karena wajah adalah gambar, dan nama adalah kata-kata. Gambar direspon oleh otak kanan dan nama direspon oleh otak kiri.
Hal lain yang juga mendasari penemuan Mind Map oleh Buzan (juga berdasarkan hasil penelitian Sperry) adalah tampak pula bahwa orang-orang yang telah dilatih dalam keterampilan-keterampilan yang lebih mengandalkan salah satu “sisi” otak, melanjutkannya dengan membentuk kebiasaan-kebiasaan dominan yang lebih memilih kegiatan yang dikendalikan sisi otak tersebut. Jadi, ternyata apabila kita melakukan kegiatan-kegiatan yang lebih mengandalkan pada respon salah satu belahan sisi otak saja maka kita akan memiliki kecenderungan selalu menampilkan tindakan-tindakan, karakter dan sikap yang dikendalikan oleh salah satu belahan sisi otak tersebut. Akibatnya, pemikiran kita akan terpasung dan sulit untuk melakukan pemikiran kreatif yang tidak terbatas. Padahal menurut Buzan (2008), penggabungan unsur-unsur kedua belahan otak memungkinkan kita mencapai kemajuan yang mengejutkan pada keseluruhan kinerja kita. Bila kita hanya mengandalkan salah satu sisi otak dan melalaikan sisi lainnya, kita telah mengurangi potensi keseluruhan otak secara drastis.
Pengertian Mind Map
Menurut Edward, Mind Map adalah cara paling efektif dan efisien untuk memasukkan, menyimpan, dan mengeluarkan data dari dan ke otak. Sedangkan menurut Buzan yang notabene adalah penemu Mind Map, ia memberikan beberapa pengertian mengenai Mind Map itu sendiri. Menurutnya, Mind Map adalah cara mencatat yang kreatif, efektif, dan secara harafiah akan “memetakan” pikiran-pikiran kita.
Dalam pengertian ini, Buzan mengibaratkan Mind Map seperti pusat kota. Pusat Mind Map mirip dengan pusat kota. Pusat Mind Map mewakili ide terpenting. Jalan-jalan utama yang menyebar dari pusat mewakili pikiran-pikiran utama dalam proses pemikiran kita, jalan-jalan sekunder mewakili pikiran-pikiran sekunder, dan seterusnya. Gambar-gambar atau bentuk-bentuk khusus dapat mewakili area yang menarik atau ide-ide menarik tertentu. Lebih lanjut Buzan menjelaskan bahwa Mind Map juga merupakan peta rute yang hebat bagi ingatan, memungkinkan kita menyusun fakta dan pemikiran sedemikian rupa sehingga cara kerja alami otak dilibatkan sejak awal. Ini berarti mengingat sekaligus memproduksi kembali informasi akan lebih mudah dan lebih bisa diandalkan daripada menggunakan teknik pencatatan konvensional.
Mind Map menggunakan garis lengkung, simbol, kata, dan gambar yang sesuai dengan satu rangkaian aturan yang sederhana, mendasar, alami, dan sesuai dengan cara kerja otak. Dengan Mind Map, daftar informasi yang penjang bisa dialihkan menjadi diagram warna-warni, sangat teratur, dan mudah diingat yang bekerja selaras dengan cara kerja alami otak dalam melakukan berbagai hal.
Windura, mendefinisikan Mind Map sebagai suatu teknis grafis yang memungkinkan kita untuk mengeksplorasi seluruh kemampuan otak kita untuk keperluan berpikir dan belajar. Pengertian yang sama seperti dimuat dalam Tabloid Nakita, Mind Map adalah peta pikiran yang dibentuk oleh kata, warna, garis, dan gambar.
Karakteristik Mind Map
Ada beberapa karakteristik dalam Mind Map (pemetaan pikiran) dan karakteristik tersebut antara lain adalah:
1) Warna
Mind Map mengharuskan seseorang untuk menggunakan berbagai warna dalam pembuatannya. Karena disukai oleh otak. Penggunaan warna juga mengaktifkan sisi otak kanan seseorang. Sehingga yang dirasakan bukan merupakan suatu kegiatan belajar namun lebih bersifat bermain sambil menggambar dan ini merupakan salah satu tujuan dari Mind Map.
2) Gambar
Gambar adalah stenografi bagi otak. Menambahkan gambar paga peta pikiran membantu dalam penyampaian visual ke otak.
3) Radial dan sentral
Kata utama sebagai gagasan inti materi, ditempatkan pada tengah kertas pada posisi horizontal. Hal ini untuk meluruskan otak bekerja sacara radial (memencar keluar ke segala arah). Untuk menginterpretasikan diri lebih bebas dan alami. Dan untuk memulai peta pikiran letakkan gagasan inti pada tengah kertas sebagai sentral. Karena sebuah gambar sentral akan lebih menarik, tetap terfokus, membantu berkosentrasi dan mengaktifkan otak.
4) Cabang-cabang
Cabang-cabang merupakan sebuah cabang utama ke gambar sentral sampai cabang-cabang tingkat kedua dan ketiga dan seterusnya. Jika menghubungkan cabang-cabang maka akan lebih mudah dalam memahami dan mengingat.
5) Garis lengkung
Setiap cabang yang dihubungkan ke sentral menggunakan garis lengkung. Karena garis lurus akan membosankan otak. Cabang-cabang yang melengkung, seperti cabang-cabang pohon lebih menarik bagi mata. Penarikan garis lengkung antara cabang yang satu dengan cabang yang lain atau antara cabang dan sentral merupakan hubungan yang dibangun dari proses berfikir.
6) Kata kunci
Kata kunci menjadikan peta pikiran lebih kuat dan fleksibel yaitu melahirkan asosiasi dan hubungan. Penggunaan kata kunci akan lebih bebas dan memicu pikiran mencetuskan gagasan baru.
Langkah-Langkah Membuat Mind Map
Langkah-langkah dalam membuat Mind Map menurut Buzan adalah sebagai berikut:
1) Mulailah dari bagian TENGAH kertas kosong yang sisi panjangnya diletakkan mendatar.
2) Gunakan GAMBAR atau PHOTO untuk ide sentral.
3) Gunakan WARNA.
4) HUBUNGKAN CABANG-CABANG UTAMA ke gambar pusat. Dan hubungkan cabang-cabang tingkat dua dan tingkat tiga ke tingkat satu dan dua, dan seterusnya. (terutama ingatan dan pembelajaran akan berantakkan);
5) Buatlah garis hubungan yang MELENGKUNG, bukan garis lurus.
6) Gunakan SATU KATA KUNCI UNTUK SETIAP GARIS.
7) Gunakan GAMBAR.
Kesimpulan
Secara fundamental, Mind Map mampu membuka kesadaran berpikir pada kita. Kita ketika dulu belajar di sekolah mungkin pernah merasakan buntu ketika mendapat masalah atau ketika terlalu banyak pelajaran yang harus kita kuasai. Kemudian ada ungkapan “otakku sudah penuh”. Padahal tidak ada istilah otak penuh, di atas telah dijelaskan kemampuan otak sangat luar biasa. Hanya saja otak juga tidak bisa diperlakukan secara membabi buta. Kita harus memperlakukannya dengan baik sesuai dengan apa yang dimaui oleh otak itu sendiri.
Pendidikan kita secara umum juga tidak memberi kesempatan kepada para peserta didik untuk mengeksplorasi kemampuannya secara maksimal. Kita tahu betul, sangat sedikit sekolah yang membuka jurusan lain di luar IPA dan IPS. Padahal kemampuan para peserta didik tidak bisa dibuat dikotomi demikian.
Mind Map dapat digunakan kita pada saat belajar, bekerja, presentasi, membuat prioritas, dan lain-lain.
Semoga bermanfaat

Diskusi oleh mas dhofier

senin,19 september 2011

Basecamp IMT Ciputat Jam 19.00

About IMT ( Ikatan Mahasiswa Tegal ) Ciputat

Organisasi independen mahasiswa yang terdiri dari mahasiswa asal Tegal dan ada keterkaitan dengan Tegal yang menimba ilmu di daaerah ciputat dan sekitarnya agar menjadi wadah persatuan dan pengembangan dalam memajukan skill dan knowledge masing-masing mahasiswa sehingga menjadi pribadi yang bermanfaat baik untuk diri sendiri dan masyarakat Tegal sekitarnya.

Posted on 22 September 2011, in Tak Berkategori. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: