Jum’at Lengang Hp-ne Nyong Ilang

(Diilhami dari kisah nyata seorang mantan ketua IMT_C)

“Halo Meth, kamu dimana sekarang? Punya kartu simpati ndak?” tanya Gus Akib sembari menggenggam HP milik Rizki dengan sangat hati-hati.

“Iya, aku ndue. Ana apa Mas Akib? Tapi pulsane kari sacuil kas dijaluki Aji,” ucap Metha agak lemas sambil membuka mata yang dari tadi merem menikmati istirahat siang di kosan tercinta. Terik matahari yang menyengat kulit, membuat mahasiswi saintek ini enggan beranjak dari tidurnya dan tidak begitu memperdulikan telfon dari Gus Akib, mantan ketua IMT yang sangat rela mengorbankan jiwa, raga, bahkan jatah makannya demi kemakmuran teman-teman Tegal lainnya di seantero basecamp. Kala itu Gus Akib, pria tampan nan gagah ini sedang panik lantaran kehilangan HP yang baru saja dilelangnya dari Mba Indah, nona warteg asal Krandon, Kota Tegal, Provinsi Jawa Tengah, Ibu kota Semarang.

“Meth, metu owh. Kie Akib wis ning njaba.!!!” teriak akib yang berusaha mempertahankan kekokohan sarungnya yang hampir melorot setelah dipakai Sholat Jumat tadi. Akib terus melongok-longok jendela kosan Metha, berharap Metha segera keluar dan mau  meminjamkan kartu simpati miliknya.

“Ada apa mas akib? Nyariin Mba Indah, ya. Dia baru saja pergi katanya mau nganterin makanan buat Mas Endut,” ucap metha sambil nyengir dan melirik ke arah Gus Akib yang juga sama-sama endut tapi tetap atletis. Akib terdiam sejenak memandangi Metha dengan mata sok serem padahal aslinya nggak serem.

“Maksudku, Mas Amin.” Metha kembali nyengir.

“Yah mudah-mudahan saja indah berlama-lama di kosan amin, biar aku tidak ditagih dulu cicilan HP yang belum lunas,” ujar Gus akib menenagkan diri sambil menyibak rambutnya ke depan meyakinkan bahwa dirinya tak kalah ganteng dengna Afgansyah Reza.

“Mba Indah emang betah kalau di kosan Mas Amin. Hehehe…! Ngomong-ngomong kenapa tadi tanyain kartu simpati?” tanya Metha sembari menonaktifkan HP dan memberikan kartu simpatinya.

“HP ku ilang, Meth!” Gus akib tertunduk lesu.

“Terus kartu simpatine pan nggo apa?”

“Aku pan coba nelfon nomerku, mbokan mesih aktif?!”

Metha dan Gus Akib berjalan menuju basecamp. Tumpukan sampah, koran yang berserakan, makanan yang hanya tinggal sisa, gelas bekas kopi yang belum dicuci, selalu saja menghiasi tempat tongkrongan anak-anak Tegal di Ciputat.

“Pimen Gus? Wis ketemu HP-ne?” tanya Latif sambil cengar cengir.

Sementara itu di luar basecamp, Bojes nampak sedang berseteru dengan Ayu, gadis ekonomi yang entah dengan jampi-jampi apa bojes bsia menaklukannya.

“Dari tadi aku telfon kamu. Kenapa hp kamu nggak aktif?” Ayu ngotot dengan mata yang melotot.

“Aku juga nggak tau sayang, kenapa HP ku nggak aktif. Tadi sebelum Sholat Jumat HP ku masih ada di dalem, lagi dicas malah!” Bojes mencoba menjelaskan dan menenangkan kekasih tercintanya itu.

“Jes, esia ne ente ilang juga, yah?” teriak Gus Akib dari dalam basecamp.

Sementara itu Latif yang sedang duduk santai di kursi pojok, terus saja cengar-cengair sambil  sms-an.

“Gus, Gus…! Mugane dong tuku HP ya aja ngutang ndisit. Dong kaya kue ta kucing be ya bisa owh? Hehehe.” Latif menimpali sambil terus memainkan jemarinya di keyword HP.

“Koen ta wong HP ne ora ilang sih, dadine bisa ngomong kaya kue. Toli wis leh aja cengar-cengir bae. Lagi sms-an karo sapa sih? Leli ohya?” Gus Akib gantian membalas Latif.

“Dih, kaya kue yah? Atane leli sing digawa-gawa,” ujar Latif tak mau kalah.

Di tengah-tengah cek-cok bersaudara antara Latif dan Gus Akib, Riski mengakhiri lamunannya, yang dari tadi berangan-angan memiliki pacar seorang mahasiswi kedokteran. Namun apa daya Riski bukan selera mahasiswi kedokteran asal Jati Negara itu. Riski pun pasrah bahkan teramat pasrah dengan nasib suramnya itu.

“Wis meneng kabeh, aja pada ribut. Yuh digoleti HP ne bareng-bareng!” ajak Riski antusias dengan semangatnya sebagai ketua  IMT baru angkatan 2008-2009.

“Gus pimen kyeh, esia-ne nyong ilang. Si Ayu mencak-mencak atane lunga. Dewek senasib, yah?” ucap Bojes meyakinkan Gus Akib.

“Senasib karo ente, Jes? Diiih, moh Yah. Aku karo ente mesih gantengan aku owh?!” Gus Akib tak mau kalah.

“Wis owh Mas Akib. Ditelfon maning nomere anggo simpatine aku,” Metha menawarkan pada Gus Akib.

“His ngko ndisit. Aja buru-buru kudu ana taktike owh!” saran Ikbal

“Taktik apa? Aja kesuen, mbokan hpne nyong wis anjog akhirat pimen?” ungkap Gus Akib panik.

“Bener jare Ikbal, emang kudu ana taktike!” Latif menambahi.

“Dewek ngko nelpone aja anggo bahasa Tegal owh?!” Ikbal kembali menyarankan.

“Yawis anggo bahasa Indoenesia bae, ben rada keren. Toli nggo wedi-wedi malinge!” Riski menambahi.

“Tapi mobkan malinge wong Sunda, pimen? Dewek ra ngerti bahasane owh?” ujar Metha dengan semangat.

Suasana basecamp sejenak lengang, nampak semuanya berfikir mencari cara bagaimana menindaklanjuti maling tersebut.

“Ki, ente mbiyen pernah mondok ning daerah Jawa Barat ohya? Bisa bahasa Sunda owh, Wa?” ucap Ikbal penuh semangat.

“Maling jaman sekarang maunya HP GSM dan CDMA, ana-ana bae?” gerutu Gus Akib.

“Royal yah, Gus?” Bojes menimpali.

“Emang” jawab Gus Akib singkat.

“Ya wis, sapa kie sing pan nelfon ndisit?” tawar  Riski.

“Jarene ketua IMT? Esih anyar maning, durung karatan. Daning ngomong karo malilng be ra wani?!” Ikbal menambahi.

Mendengar sindiran itu, Riski nampak manyun. Kacamata yang dipakainya otomatis melorot jika perasaannya sedikit tersinggung.

“Mene, aku bae sing nelfon!” Gus akib merebut HP dari tangan Riski.

Tut…tut..tut…! Gus Akib mendengarkan dengan seksama telfon yang tersambung ke nomer simpati kesayangannya.

Mendadak Gus Akib menutup telfon yang sudah tersambung itu. Muka Gus Akib nampak cerah. Senyuman manis terukir di bibirnya yang tidak seseksi bibir fans beratnya, Afgansyah Reza, pria yang bukan berasal dari pondok Babakan.

Latif yang dari tadi mengamati gerak-gerik Gus Akib, terus menimpali, “His, pimen Gus. daning dipateni HP-ne?” tanya Latif heran sambil meletakkan secangkir kopi di dekat televisi.

“Toli bisane kas nelfon cengar-cengir kaya kue sih, Gus? Malinge suarane merdu?” tanya Ikbal.

“Hihihi.. nomere nyong esih aktif, berarti hp ne nyong durung ilang owh?”

“Durung ilang pimen? Mene nyong bae sing nelfon. Koen ta kesuen, Gus. Kesusu HP ne mabur!!!” Bojes geram meihat tingkah Gus Akib.

Bojes menekan satu persatu nomor yang ada di keyword HP Riski, sehingga nomor yang dituju bisa tersambungkan. Nampak suara seseorang langsung menjawab telfon dari Bojes.

“Halo! Ono opo to, Mas? Nggoleti HP, yah?”

“Assemmm…! Jebule pada bae wong jawane. Mene wis mas, belakna HP ne bocah-bocah. Aja kaya kue owh!” Gertak bojes yang semakin geram.

Gus Akib yang kesal, segera merebut HP yang berada di genggaman Bojes, “Heh sampean karepe apa, sih? Mene belakena. Pada wong jawane ka. Tega temen, sih?”

“Mene owh! Yen HP-ne njenengan-njenengan pengen balik. Kye di pundut bae!” jawab Si Maling dengan santai tanpa merasa berdosa sedikitpun.

“Sampean saiki nang ndi?” tanya Gus Akib kembali.

“Aku ning warteg pereke kampus loro, mene bae owh!” jawab Sang Maling.

Akhirnya Gus Akib dan kawan-kawan beranjak mencari lokasi yang dimaksud oleh Si Maling. Jalanan hari Jumat yang begitu lengang dan panas tidak menyurutkan langkah pasukan-pasukan IMT untuk terus maju melawan kebathilan.

“Gus, mbang endi kyeh wartege?” tanya Riski yang dari tadi masih manyun.

“Mene owh belok, kayonge ta ning kene. Sebelah endi yah? Nyong daning kelalen?” Gus Akib mencoba terus mengingat-ingat.

Jalanan kampus dua sudah mereka telusuri, segala warteg di sekitarnya, sudah mereka datangi. Namun tidak ada ciri-ciri warteg yang disebutkan Si Maling.

“Heh bocah-bocah, nyadar belih sih? Dewek kye dibodoni tok daning malinge?!” ucap Ikbal meyakinkan.

Tut…tut…! HP RISKI berdering nampak ada satu pesan masuk dari nomor 081380855890

“Suwun nggeh mas-mas IMT, HP ne ngge kulo mawon. Ngapuntene yen tak pendet. Soale kulo ngefans nemen kalih Gus Akib. Dadine hp ne mboran sing tak pendet dari pada wonge ra bisa dipendet sih, ya? Heheh…! Ohya esiane ya suwun, bonus ngge kulo. Aku ta lagi ora ning warteg, tapi ning rumah makan padang. yawis!”

“Edaaaannnnnnnnnnnnnnn” teriak Gus Akib.

“Kwakwakwakwak….” teriak teman-teman IMT yang lain.

Kozan, 5 Juni ‘09

1.05

Metha Arum

About IMT ( Ikatan Mahasiswa Tegal ) Ciputat

Organisasi independen mahasiswa yang terdiri dari mahasiswa asal Tegal dan ada keterkaitan dengan Tegal yang menimba ilmu di daaerah ciputat dan sekitarnya agar menjadi wadah persatuan dan pengembangan dalam memajukan skill dan knowledge masing-masing mahasiswa sehingga menjadi pribadi yang bermanfaat baik untuk diri sendiri dan masyarakat Tegal sekitarnya.

Posted on 5 Juni 2009, in 1. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: