Tradisi Intelektual Warga Tegal *

Wilayah Tegal yang berada pada jalur utama Pantai Utara Jawa merupakan kawasan yang berada di jalur emas yang dinamis, sekaligus memiliki kultur wirausaha yang menggembirakan. Apalagi Tegal berada pada persimpangan jalur yang menghubungkan dengan Jakarta, Semarang dan Purwokerto. Kondisi ini menjadikan Tegal sebagai wilayah yang terbuka dan kosmopolitan. Kalaupun ada yang disayangkan, tradisi intelektual termasuk berkesenian, berdiskusi dan menulis masih terbilang rendah di kawasan ini.

Tradisi Baca-Tulis-Diskusi
Tegal memang tidak pernah memosisikan diri sebagai kota intelektual (dan pelajar) seperti Yogyakarta, Solo, Semarang, Jakarta, Bandung, atau baru-baru ini Malang. Tegal misalnya, tidak memiliki kampus universitas negeri . Kampus-kampus universitas swasta pun terbatas. Untuk mendapatkan buku-buku baru di Tegal relatif sulit. Hanya ada sedikit toko buku , itu pun kebanyakan hanya memajang buku-buku pelajaran dan buku teks. Bazar buku yang diselenggarakan beberapa kali lebih banyak menjual buku-buku dengan proporsi buku agama lebih banyak ketimbang buku-buku bidang keilmuan lain.

Keberadaan kaum muda intelektual yang sebenarnya mengangkat nama Yogyakarta, Solo, Semarang atau Bandung berkibar di kancah nasional. Kaum muda intelektual ini banyak bergiat dalam pergerakan mahasiswa, kelompok studi, maupun komunitas kebudayaan (dan kesenian). Banyak aktivis, pemikir, dan seniman dilahirkan oleh tradisi dan iklim intelektual yang terbangun baik di kota-kota itu. Yogyakarta misalnya, memiliki sejumlah tempat dan komunitas di mana intelektual dilahirkan setiap tahunnya, seperti kawasan Malioboro, Beteng Vredeburg, Gedung Societet, Senisono, hingga Kantin Bonbin Universitas Gadjah Mada (UGM).

Dahulu Malioboro dikenal sebagai pangkalan Persada Studi Club yang digawangi anak muda Umbu Landu Paranggi. Sejumlah nama sejak dari Emha Ainun Nadjib, Korrie Layun Rampan, Ebiet G Ade hingga Linus Suryadi AG konon dilahirkan dari tradisi menulis yang dibangun komunitas ini. Selain berkesenian, anak-anak muda di kota ini berdiskusi soal filsafat hingga ilmu-ilmu humaniora. Tidak cukup berdiskusi mereka mendirikan penerbitan untuk mencetak naskah-naskah tulisan sendiri maupun terjemah karya asing untuk memperkaya khazanah literatur keilmuan.

Di Solo, anak-anak muda ini banyak berdialektika di Taman Budaya Surakarta, Kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) maupun kampus Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) yang kini menjadi Institut Seni Indonesia (ISI). Kelompok Studi Mangkubumen yang diampu M.T. Arifin misalnya menjadi kelompok studi yang menghasilkan banyak nama pada masanya di Solo. Taman Ismail Marzuki, Pasar Seni Ancol, maupun Gelanggang Remaja Bulungan dapat disebut sebagai barometer kebudayaan (termasuk olahraga) anak-anak muda Jakarta. Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB) serta STSI Bandung merupakan wahana anak-anak muda Bandung berkreasi. FSRD ITB dipelopori Yasraf Amir Piliang misalnya banyak dikenal karena kajian teori-teori postmodernisme yang sekarang sedang hangat dalam diskursus ilmu sosial kita—yang sebenarnya merupakan paradoks karena kajian-kajian ini lebih tepat diulas oleh mahasiswa-mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) ataupun mahasiswa jurusan Filsafat dan ilmu-ilmu humaniora lain.

Tradisi Budaya (dan Kesenian)
Kebudayaan (dan kesenian) sebenarnya juga tumbuh di wilayah Tegal, namun menjadi kebudayaan yang berdiri sendiri-sendiri. Kelompok-kelompok kesenian dan kegiatan-kegiatan budaya atau kesenian telah berlangsung, namun masih terbatas pada latihan maupun pentas karena diundang. Belum ada wadah dalam festival kebudayaan sehingga belum terjadi dialog apalagi kolaborasi antaraktivis kebudayaan ini, maupun pentas kebudayaan itu sendiri.

Beberapa daerah lain misalnya, telah memiliki tradisi festival kebudayaan setiap tahunnya. Meski terdapat catatan kritis hanya menjadi agenda tahunan, keberadaan festival kebudayaan ini mampu memberi nuansa dan rasa kebudayaan daerah meski tidak berlangsung setiap hari. Bali dan Yogyakarta memiliki festival kesenian setiap tahunnya yang diisi oleh berbagai macam acara kesenian semenjak dari pawai, pentas, diskusi, pemutaran film, hingga pameran. Di Jember festival kebudayaannya dilangsungkan setiap tahun dengan titik fokus pada pawai fashion rancangan anak muda Jember . Di Serang, seniman muda Gola Gong berikhtiar mengadakan festival kebudayaan bertajuk Jambore Sastra. Seniman-seniman ‘independen’ Magelang dikomando Sutanto Mendut menggelar Festival Lima Gunung, untuk mengelola ‘aspirasi’ orang-orang gunung yang hidup dari kearifan Merapi, Merbabu, Menoreh, Sindoro, dan Sumbing. Pegiat dan penikmat seni musik (khususnya etnik) dimanjakan dengan festival musik etnik internasional di Solo.

Tegal Hari Ini
Secara relatif tradisi intelektual dan budaya belum terbangun di wilayah Tegal. Tegal tidak memiliki kantong komunitas yang melahirkan anak muda pemikir, intelektual, maupun seniman. Dewan Kesenian baik Kabupaten maupun Kota Tegal misalnya, tidak banyak diisi oleh anak-anak muda. Gedung kesenian yang ada pun terbatas, bahkan di wilayah Kabupaten Tegal baru diresmikan penggunaannya . Pondok La Tahzan yang berada dalam kawasan rest area Klonengan sebenarnya cukup strategis menjadi kantong intelektual dan kebudayaan Tegal. Namun sayang, lokasinya berada jauh di luar kota Slawi apalagi Tegal.

Padahal Tegal memiliki potensi yang tidak kurang banyaknya, terutama di bidang kesenian khususnya film. Kabarnya Tegal pada masa awal kemerdekaan pernah memiliki institut perfilman yang berada di Gedung Dewan Kesenian (Kota) Tegal saat ini, sebelum akhirnya pindah ke Yogyakarta bergabung dengan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang menjadi cikal bakal ISI Yogyakarta. Tidak heran bila banyak kru-kru rumah produksi di ibukota banyak diisi oleh orang-orang dari Tegal, termasuk sutradara kondang Imam Tantowi.

Bila Tegal tertarik mengadakan festival kebudayaan, perlu dirumuskan fokus kebudayaan apa yang akan diangkat. Hal ini penting karena masing-masing daerah memiliki keunggulan yang berbeda-beda. Yogyakarta, Bali, Magelang memilih mengangkat tradisi kesenian seperti tari, musik, maupun teater rakyat. Jember mengangkat kebudayaan fashion. Atau Serang berkebudayaan melalui sastra, sedang Solo menggagas musik etnik.

*)Tulisan ini termasuk 10 Nominasi Pemenang Lomba Menulis Artikel Kritik Membangun oleh Kantor Informasi dan Komunikasi (Infokom) Pemkot Tegal Tahun 2008. Untuk kepentingan penulisan buku ini dan akurasi data, esai ini telah melalui proses editing-ulang.

About IMT ( Ikatan Mahasiswa Tegal ) Ciputat

Organisasi independen mahasiswa yang terdiri dari mahasiswa asal Tegal dan ada keterkaitan dengan Tegal yang menimba ilmu di daaerah ciputat dan sekitarnya agar menjadi wadah persatuan dan pengembangan dalam memajukan skill dan knowledge masing-masing mahasiswa sehingga menjadi pribadi yang bermanfaat baik untuk diri sendiri dan masyarakat Tegal sekitarnya.

Posted on 23 April 2009, in 1 and tagged , , , . Bookmark the permalink. 7 Komentar.

  1. tulisane apik nemen sung!

  2. Tulisan bagus begini ko’ tidak disertai nama penulis dan penjelasannya. Moderator lagi ngelamun ya…

  3. GtZqh2 czlpwhcpofxg, [url=http://zhkxmxqwuokd.com/]zhkxmxqwuokd[/url], [link=http://jgfehvgbkaae.com/]jgfehvgbkaae[/link], http://dpvaoddztgoq.com/

  4. Tegal mang laka – laka Jon.. Siip Tegal

  5. Sbnrnya intlektual dr anak=x Tegal Klo mo ngegali ptnsi kbdyaan yg ad di Tegal Bs aja Byk ko.! Asal ada wadahnya trutma jaran Lumpin trbang kencer dan trbang jawa yg klo aku amati di daerah Lain ga ada trutama kuntulan ini Budaya tegal tmpo dulu aku kecil orang=x.nya jg msh ada skrg klo ada wadah yg mau menampung sygnya skrg ga ada yg pdli sm Budaya Tegal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: