Krisis Ekonomi Indonesia dan Munculnya Neo-Wayangisme

muiz Oleh: Balapulangisme


“… Mereka takut kalau-kalau Indonesia mengambil alih kendali peradaban dunia di masa mendatang. Dibentuklah Liga Negara-Negara Barat (LNB), bertujuan untuk menumpas potensi imperium yang menggejala dari negeri Indonesia. Mereka bersepakat untuk mengirimkan pasukan-pasukan militer mereka guna merebut Indonesia. ”Kita jajah kembali bangsa itu!!!”, itulah semangat yang mereka suarakan…”

Bermula dari krisis yang melanda Negara Thailand pada medio 1996-an, akhirya semakin meluas pada sebagian besar negara di benua Asia lainnya. Krisis tersebut akhirnya juga melanda negara Indonesia yang merupakan bagian dari ekonomi global dan termasuk dari daratan benua Asia.

Di Indonesia, dunia perbankan adalah yang paling terpukul oleh adanya krisis moneter yang semakin hebat ini. aliran kredit perbankan macet, investasi mengalami kontraksi yang cukup signifikan, inflasi tinggi tak terhindarkan, rupiah anjlok pada kisaran lebih dari Rp 12.000 per-dolarnya.

Kacaunya perekonomian negara berimbas pula pada perpolitikan bangsa yang berujung pada peristiwa bersejarah reformasi 1998. Pada waktu itu, kondisi Indonesia semakin mencekam. Keamanan merupakan barang yang super mahal untuk diperoleh. Penjarahan terjadi dimana-mana. Fundamental perkonomian bangsa yang pada mulanya cukup kuat akhirnya ikut terpukul juga. Maka, semakin ambruklah dunia moneter di negeri ini.

Semua gejala tersebut berujung pada krisis kepercayaan yang melanda dunia perbankan kita. Di tengah upaya membangkitkan kembali ke kondisi semula, para investor—baik itu swasta maupun asing—justru ramai-ramai menarik investasi mereka. Dunia perbakan kekurangan modal, kredit benar-benar macet total, perusahaan-perusahaan berskala besar dan kecil mengalami kebangkrutan dan mem-PHK-kan ribuan karyawannya.

Demonstrasi-demonstrasi bergulir menuntut hak tentang pekerjaan yang layak bagi seluruh lapisan masyarakat. Isu pengangguran memang isu yang sangat komplek. Banyaknya karyaan yang terkena PHK, ternyata berimbas pada kelesuan pembangunan SDM-SDM yang seharusnya disiapkan untuk masa mendatang. Dengan semakin banyaknya masayarakat yang menganggur, bukan saja membuat sulitnya memperoleh kebutuhan dasar: makan, akan tetapi berimbas pula pada maraknya realitas putus sekolah anak-anak mereka yang terkena PHK. Padahal, pendidikan adalah unsur terpenting begi pembangunan bangsa ke depan.

Oleh karena banyaknya anak yang putus sekolah tersebut, tidak heran jika usaha untuk mendapatkan pekerja-pekerja muda yang handal begitu sulit ditemukan. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah mengeluarkan paket kebijakan dengan menggalakkan program sekolah-sekolah yang mendidik siswanya untuk siap kerja. Sebenarnya terminologi sekolah kurang pas. Mungkin, lembaga tersebut lebih pas disebut dengan lembaga pelatihan.

Seluruh masyarakat berbondong-bondong memasukkan anak-anak mereka pada lembaga-lembaga tersebut. Alasannya tentu agar anak mereka kelak setelah lulus nanti cepat mendapatkan pekerjaan. Gejala ini dibaca dengan baik oleh para pengelola pendidikan di negeri ini. puluhan bahkan ratusan sekolah mengalihkan perhatian mereka menjadi lembaga pelatihan yang menjanjikan jaminan pekerjaan setelah lulus nanti. ”Kuliah cepat kerja atau kuliah terus nganggur”, begitulah jargon yang selalu mereka dengungkan.

Kampus-kampus negeri maupun swasta semakin terpuruk dengan adanya kondisi semacam ini. Calon mahasiswa baru semakin menurun saja setiap tahunnya. Sampai pada suatu ketika, hampir tidak ada satu orangpun yang tertarik untuk sekedar mendaftarkan diri pada kampus-kampus yang tak mengiklankan ”kuliah langsung kerja”.

Akan tetapi, kejayaan lembaga-lembaga pelatihan tersebut tak bertahan lama. Kurikulum lembaga-lembaga pelatihan yang hanya memfokuskan pada aspek praktis hanya membekali siswanya dengan keterampilan semata, tidak ada pengetahuan yang diajarkan di sana. Manusia-manusia dilatih hanya untuk menjadi robot-robot pesuruh. Hanya menciptakan kelas-kelas pencari pekerjaan semata. Tidak pernah diciptakan untuk membuka lapangan pekerjaan baru.

Isu penganggurn yang menggelar demonstrasi-demonstrasi menuntut hak pekerjaan yang layak dan menyeluruh pun menyeruak kembali bagai kacang goreng. Pemerintah dibuat pusing yang begitu hebat. Sampai akhirnya muncullah seorang dari sebuah desa di salah satu wilayah pedalaman di Jawa Tengah bernama Wijoyo Suganteng. Yang tidak ribut mencari pekerjaan, tapi malah mengaku bisa mengatasi langkanya pekerjaan di negeri ini.

Dengan kepercayaan tinggi dan usaha yang menggebu, Wijoyo Suganteng akhirnya mendapatkan kepercayaan penuh dari pemerintah Indonesia untuk menangani segala permasalahan yang terjadi. Pelan tapi pasti Wanyad berhasil memulihkan kembali kekacauan yang melanda bangsa Indonesia. Seluruh lapisan masyarakat dari berbagai lapisan kembali mendapatkan pekerjaan mereka. Perekonomian Indonesia kembali maju, bahkan tumbuh begitu tinggi dibanding sebelum mengalami krisis, mencapai hingga kisaran 250 persen.

Lebih hebatnya lagi, saking majunya perekonomian bangsa kini, Indonesia tak lagi membutuhkan arus modal dari pihak asing. Malahan seluruh investor-investor asing dipaksa pulang ke kandangnya masing-masing. Indonesia menjadi bangsa yang berdaulat penuh dan mandiri.

Belakangan diketahui, bahwa kesuksesan Wijoyo Suganteng dalam membangun kembali kondisi bangsa ini, tidak terlepas dari konsep kejawen yang dia anut. Wijoyo Suganteng yakin bahwa untuk mencapai tujuan yang berbeda (pengentasan dari krisis), bukan hanya strategi dan kebiijakan saja yang berbeda, tetapi ada satu yang mendasar, yakni teori. Mungkin Wijoyo Suganteng terilhami dari pemikir ekonomi barat, Keynes. Ketika di telusuri lebih lanjut, ternyata Wijoyo Suganteng hanya mengamalkan ilmu Hastabrata, ilmu ini dikenal luas sebagai ilmu tentang kepemimpinan yang diberikan Prabu Sri Rama pada Prabu Wibisana dalam epos Ramayana.

Kabar ini menyebar hinggu meluas ke seluruh pelosok negeri bahkan ke seluruh penjuru dunia sekalipun. Semua orang berndong-bondong meninggalkan peradaban barat yang dulunya begitu mendominasi persendian pemikiran dan peradaban seluruh umat manusia, dan diganti dengan memegang ajaran kejawen dalam tingkah kesehariannya. Hampir seluruh penduduk negeri ini memegang aliran kejawen, khususnya nilai-nilai pewayangan. Muncullah aliran neo-wayangisme.

Negara-negara barat dibuat takut dengan kebangkitan bangsa Indonesia. Mereka takut kalau-kalau Indonesia mengambil alih kendali peradaban dunia di masa mendatang. Dibentuklah Liga Negara-Negara Barat (LNB), bertujuan untuk menumpas potensi imperium yang menggejala dari negeri Indonesia. Mereka bersepakat untuk mengirimkan pasukan-pasukan militer mereka guna merebut Indonesia. ”Kita jajah kembali bangsa itu!!!”, itulah semangat yang mereka suarakan.

Pesawat-pesawat tempur, tank-tank baja, kapal perang dikirim dengan berbagai amunisi yang super canggih. Bangsa Indonesia yang belum mempunyai kekuatan militer yang cukup kuat dibuat kalang-kabut dengan serangan dari LNB ini. Ditutup dengan menjatuhkan dua puluh bom nuklir di lima provinsi terbesar di negara Indonesia, akhirnya Inonesia berhasil ditaklukkan dengan mudah. Tak ada pilihan lain bagi Indonesia kecuali menyerah tanpa syarat.

Tak lama kemudian Wijoyo Suganteng, seorang yang sebelumnya dielu-elukan hingga ke seluruh penjuru bumi, akhirnya ditangkap dengan tanpa perlawanan. Hal ini karena seluruh prajurit-prajurit dari pihak LNB sengaja dibekali dengan penutup kuping super canggih sehingga mustahil mendengar segala wejangan adiluhur dari mulut Wijoyo Suganteng. Benar-benar pintar dan cerdas memang pihak LNB itu.

Setelah berhasil ditangkap, Wijoyo Suganteng diamankan dulu sebentar di pos militer, benteng pusat. Benteng terseut didirakan di atas stadion kebanggaan bangsa Indonesia: Senayan. Setelah terlebih dulu menggusur stadion tersebut. Setelah itu, dengan penjagaan yang super ketat pasukan khusus yang paling terlatih, Wijoyo Suganteng langsung dibawa ke penjara Guantanamo di Amerika yang terkena mengerikan itu. Ketika diinterogasi untuk dimintai keterangan lebih lanjut—dengan keperluan masa depan kekuasanaan negara Barat di dunia—oleh pemimpin tertinggi angkatan militer Liga Negara Barat (LNB) di salah satu ruang paling angker di penjara Guantanamo itu, Wijoyo Suganteng kebingungan dan hanya menjawab, ”Jangan terlalu mendramatisir keadaan, Om, Ga baik…..”. Sang interogator menjawab, “ASUUUU…!!!”.

About IMT ( Ikatan Mahasiswa Tegal ) Ciputat

Organisasi independen mahasiswa yang terdiri dari mahasiswa asal Tegal dan ada keterkaitan dengan Tegal yang menimba ilmu di daaerah ciputat dan sekitarnya agar menjadi wadah persatuan dan pengembangan dalam memajukan skill dan knowledge masing-masing mahasiswa sehingga menjadi pribadi yang bermanfaat baik untuk diri sendiri dan masyarakat Tegal sekitarnya.

Posted on 16 April 2009, in Tulisan Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: