Menjadi Kiblat Pengetahuan, mengapa tidak?

ujungkidul-nunjauhdisana, 5 Februari 2009

Terus terang, saya tergelitik membaca artikel “Tegal sebagai Kiblat Ilmu Pengetahuan, mungkinkah?”. Walaupun amat pendek sehingga secara teoritis terkesan kurang mengakar, namun sebagai ide artikel itu amat brilian dan fokus.. Artikel tersebut menyentak kesadaran saya betapa selama ini kita telah dibuai oleh sejarah. Sejarah disebut sebagai masyarakat yang serba bisa dan masyarakat yang bisa mensiasati hidup. Kebanggaan kita terhadap warteg, pula kebanggaan tersemat sebagai Jepangnya Indonesia. Padahal itu semua adalah hasil dari kualitas kita di masa lalu, sedangkan di masa sekarang kita belum mampu berbuat banyak. Sekarang ini, para pengusaha warteg semakin megap-megap dan para perajin kuningan makin ngos-ngosan.

Singkat kata, pamor masa lalu perlu disepuh kembali agar lebih mencorong dan keminclong. Merujuk pada tulisan saya sebelumnya, kita harus memupuk narsis kita secara berdaya guna. Bukan sekadar merasa hebat, tapi lebih dari itu adalah mencari cara dan terus berupaya supaya benar-benar hebat.

Dari situ, tanpa meninggalkan kiprah lama di dunia warteg dan kuningan, sekarang ini kita perlu merumuskan kembali langkah-langkah bagi kemajuan masyarakat kita. Dan, ide mencari hal baru bagi terbangunnya kiblat baru merupakan hal yang amat signifikan.

Merujuk pada contoh Pare memang agak nggemesi. Ko’ bisa ya? Mengapa kita tidak?

Kalau menilik sejarah warteg dan kuningan, ide menjadi kiblat pengetahuan sepertinya memang agak berat. Di samping kita kurang memiliki SDM yang memadai juga struktur sosial kita sepertinya kurang mendukung. Selain itu, kehebatan warteg dan kuningan adalah benar-benar lahir dari bawah, dari kreativitas masyarakat kita sendiri. Saya berani mengatakan untuk kasus ini pemerintah kita tidak berperan signifikan.

Dengan demikian untuk kepentingan kiblat pengetahuan, saya tidak yakin pemerintah bisa membangun perannya. Bukan apa-apa, kita tahu model pemerintahan kita. Tulisan panjenengan yang di dalam kurung itu terus terang membuat saya terpingkal-pingkal. Toktel, wani, tega, lan sadulure. Soale aku ngalami, Mas. Mwuuuumet ngurusi kertas sing sabenere tinggal ngetik laka mang menit. Gayane pada sibuk. Ujung-ujungnya, ya… ngarti dewek lah…. Njenengan masih paham bahasa Tegal kan, Mas?

Jadi menurut saya, bagi kepentingan membangun kiblat, mahasiswa menempati posisi peran utama. Bukan pemerintah, seperti model urutan yang njenengan sodorkan. Mahasiswa, Mas! Mereka harus mulai (maaf, nyolong bahasane njenengan) mengonsolidasikan diri! Membangun jejaring dan komunikasi antar mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

Sebagai langkah awal, supaya lebih mudah, jejaring berdasarkan fakultas atau jurusan masing-masing amat perlu. Namun setelah itu harus membangun jejaring lintas batas, lintas ilmu pengetahuan. Ini untuk saling menguatkan. Paling tidak, kalau mau silaturahmi bisa ramai. Aku setuju dengan njenengan, ora usah demo! Silaturrahmi bae, tapi nggawa spanduk utawa poster sing gede-gede. Yen ora kaya kuwe sing disilaturahmini dlemang-dlemeng, Mas!

Setelah itu adalah langkah praksis melahirkan kantung-kantung ilmu pengetahuan. Saya yakin, masyarakat kita akan ngikut sendiri. Masyarakat kita amat beradab dan cerdas, ko’. Mereka tahu mana-siapa yang ngibuli dan siapa-mana yang bermanfaat. Tidak usah digurui.

Yang jadi masalah menurut saya adalah mahasiswa kita sendiri. Seringkali mereka terjebak pada kepentingan-kepentingan pragmatis. Banyak adik-adik kita yang terlarut pada hiruk-pikuk politik jangka pendek. Politik kekuasaan, Mas! Menjadi tim suksesnya si Anu, ngadang-ngadang proyek dari si Anu, lan sadulure. Kalau dilihat dari pojok ini, adik-adik kita masih banyak yang belum sadar pada visi pembangunan rakyat. Banyak yang petakilan, tapi ora mutu. Adik-adik sing neng IMT Ciputat aja tersinggung ya… Sampun khawatir, kulo ngertos ko’. Saya terus mengamati kiprah IMT Ciputat. Bravo!*

sagumelaringjagad

gumeralingjagad@yahoo.com

dudu mahasiswa dudu sapa-sapa

About IMT ( Ikatan Mahasiswa Tegal ) Ciputat

Organisasi independen mahasiswa yang terdiri dari mahasiswa asal Tegal dan ada keterkaitan dengan Tegal yang menimba ilmu di daaerah ciputat dan sekitarnya agar menjadi wadah persatuan dan pengembangan dalam memajukan skill dan knowledge masing-masing mahasiswa sehingga menjadi pribadi yang bermanfaat baik untuk diri sendiri dan masyarakat Tegal sekitarnya.

Posted on 7 Februari 2009, in VISI IKATAN MAHASISWA TEGAL (IMT) CIPUTAT and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: