Tegal sebagai Kiblat Ilmu Pengetahuan, mungkinkah?

Judul tersebut terkesan mengada-ada, mimpi di siang bolong, dan jauh dari mungkin alias utopis wal mustahil. Kemustahilan itu tentu saja diungkapkan oleh pribadi yang tidak mempunyai visi ke depan yang diperkuat– melalui jejaring-syaraf-eskapisme – oleh kondisi bahwa masyarakat Tegal– mudah-mudahan ini salah – kurang peduli pada pendidikan dan intelektualisme.

Apalagi kalau melihat pada sejarah, melalui produk besi-tembaga-kuningan, Tegal dikenal sebagai Jepangnya Indonesia. Sayangnya sebutan itu kini mulai redup. Selain itu, Tegal juga lebih dikenal melalui Warung Tegal (Warteg)nya. Kedua hal ini paling tidak mengindikasikan bahwa Tegal memproduksi pedagang, bukan intelektual ataupun ilmuwan.

Di sini saya ingin mengatakan bahwa hampir tidak pernah terdengar bahwa Tegal memproduksi ilmuwan, intelektual, ataupun menjadi kiblat salah satu ilmu pengetahuan. Tentu saja saya tidak melupakan kebesaran nama Imam Tantowi, Khoirul Umam, Hartono Mardjono, dan lain-lain. Mereka adalah sosok-sosok produk Tegal yang mampu berkiprah di pentas nasional.

Membangun sesuatu sebagai kiblat memang tidak mudah, tapi sebetulnya juga tidak mustahil. Sebagai contoh adalah Pare, Kediri. Dalam kurun waktu kurang dari tiga puluh tahun telah mampu menjadi kiblat bahasa Inggris. Dari berbagai pelosok negeri, lucunya banyak yang dari jurusan bahasa Inggris dari berbagai perguruan tinggi ternama baik swasta maupun negeri, belajar bahasa Inggris di Pare.

Walaupun desa Tulungrejo kecamatan Pare adalah sebuah desa kecil terpencil cil cil cil, namun mampu membangun diri hingga menjadi tujuan ratusan ribu pelajar dan mahasiswa dari sabang sampai merauke. Bahkan, ada orang luar negeri belajar bahasa Inggris di sana. Hal ini menjadi lumbung ekonomi tersendiri bagi masyarakat sekitar. Lho, koq bisa? Kondisi demikian tentu saja bisa diperoleh karena didukung oleh semua pihak, khususnya masyarakat dan pemerintah.

Saya tidak akan berteori di sini, tapi langsung pada peran teknis yang mesti dilakukan oleh pemerintah:

  1. Melakukan penyadaran kepada masyarakat tentang perlunya pendidikan untuk generasi. (Hehe, ini amat normatif)
  2. Memberikan kemudahan administrasi dan perizinan kepada LPK-LPK. (Jemput bola dan tidak usah minta uang ngetik dan tetek bengek).
  3. Mendorong lahirnya kursus-kursus. (Bila perlu pihak pengelola diberi intensif. Jangan berpikir sempit. Itu adalah investasi, karena – seperti Pare – roda ekonomi masyarakat menjadi lancar.)
  4. Memfasilitasi lahirnya salah satu ilmu pengetahuan yang akan menjadi kiblat. Sebagai contoh: hearing/workshop dengan para fisikawan, matematikawan, ataupun pakar lainnya. (Hehe, jadi proyek ya… Yang keempat ini dicuekin juga tidak apa-apa, cukup 1-3 saja.)

Sedangkan peran masyarakat adalah membangun suasana yang kondusif bagi para pendatang. Lebih jelasnya, menjamin keamanan dan kenyamanan pelajar.

Yang terakhir adalah mahasiswa, amat berperan bagi terwujudnya intelektualisme di Tegal.

Langsung ke saran teknis:

  1. Mengkonsolidasikan diri sesuai bidang-pengetahuan masing-masing untuk kemudian merumuskan langkah-langkah bersama membangun komunitas intelektual.
  2. Membangun komunitas salah satu pengetahuan. Contoh: Kampung Matematika di desa INI. Kampung Fisika di desa ITU. Kampung Kimia di desa INU. Kampung Biologi di desa ITI. Dll.
  3. Mendorong pemerintah untuk serius mendorong lahirnya LPK-LPK. (Tidak usah demo lah, cukup silaturahmi saja.)

Terakhir, warteg dan kuningan adalah fakta di mana Tegal bisa menjadi kiblat apa pun. Itu adalah keunggulan kita. Termasuk menjadi kiblat salah satu bidang ilmu pengetahuan, kita pun pasti bisa!

Mas Also
bukan mahasiswa

About IMT ( Ikatan Mahasiswa Tegal ) Ciputat

Organisasi independen mahasiswa yang terdiri dari mahasiswa asal Tegal dan ada keterkaitan dengan Tegal yang menimba ilmu di daaerah ciputat dan sekitarnya agar menjadi wadah persatuan dan pengembangan dalam memajukan skill dan knowledge masing-masing mahasiswa sehingga menjadi pribadi yang bermanfaat baik untuk diri sendiri dan masyarakat Tegal sekitarnya.

Posted on 29 Januari 2009, in VISI IKATAN MAHASISWA TEGAL (IMT) CIPUTAT. Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. Haha… menarik bagiku karena memang keresahan njenengan hampir mempunyai korelasi setitik sama tulisanku yang berjudul “erangan seorang mahasiswa urban”. Tengoklah sedikit
    Namun, secara teknis — yang selalu jadi acuan njenengan dalam menyikapi (mudah-mudahan sih tebakanku salah) — faktor-faktor kenapa mahasiswa Tegal begitu impoten bisa kita lihat di tulisan-tulisan Mas Febri “Tegal Prismatik; essai-essai tentang Tegal” (ning laptope Guse ana oh ) di situ Mas Febri lumayan lugas menggambarkan kondisi tentang semua yang mempengaruhi gejala impotennya mahasiswa tgal dalam ranah intelektual denganmelalui kacamata sosial, karena memang background beliau adalah sosiologi.
    Ah… komenne semene bae ya. pan njelasna maning kayong ngantuk.
    Salam manis dariku…

  2. Analisis kritis, cerdas dan bermutu. Tidak ada yang tidak mungkin. Be yourself and be the best. Jabat erat dan salam hormat untuk semua Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT). (QZ)

  3. imposibble is nothing
    its have a lot meaning huh

    but,as tegalnese
    i have dream to improve ma lovely town
    especially in ma ability,i will spread ma knowlej n ma skill
    i will build ma town,i just ordinary people,but my vision extraordinary,rite?
    what ma vision?

    build ma self(imposible u build ur town without build ur self )
    build ma family(is everyone dream,rite?)]
    build ma city as modern city in central java,in indonesia n dis world(it’s ma big dream)
    wa ha ha

    maybe u laugh when u read my write,but i say one again
    “impossible is nothing”

    dis world only a little game in ur life part,after u pass dis world,u just enter da real world,but ur glory depending with what u do in dis world,so is ridicculus if u have a small thing (dream) in dis game,why u not doin gr8 thing 2 get real life

    no body can stop me,no body can made me weak
    coz why i dont care with everythin happen,i just care with what i can do

    moslem is gr8 creature,n solve every problem
    why u not try 2 be real moslem?

    so,my dream not impossible,rite?

  4. di paragraf ketiga, hanya statemen ini yang aku setuju: “build ma self(imposible u build ur town without build ur self )”
    tapi kenapa aku mesti tertawa ketika membaca tulisanmu? (Paragraf keempat)
    paragraf kelima: ya, dunia memang hanyalah sebuah permainan yang begitu kecil. begitu juga pemikiran kita yang memang sebuah pemikiran kecil. tapi, aku ga punya semangat yang sebegitu menggebunya buat melakukan griting-gritingan. rambutku aja yang kriting tak begitu menarik buatku.
    oke, dari jawaban njenengan, aku paham bahwa kita tidaklah seperti air yang mengalir tanpa identitas dalam menjalani kehidupan ini. hidup bukan untuk sekedar untuk dijalani tapi untuk diperjuangkan, sebagai proses “menjadi”kan diri kita manusia yang seutuhnya: keseimbangan antara Insan dan Basyar.
    ya, kita memang harus optimis menjalani sebuah angan dari cita. bagaimanakah membenihnya?
    Tegal, menurut hemat saya, masihlah dipenuhi segala macam keromantisisan klasik dan segala tetek bengek tradisi yang begitu sukar kita bongkar. tapi aku suka gaya”mu” (Wakakakak…)
    itulah kenapa aku terkesan dengan postulatnya Fredrich Nietczhe, “belajar mengingat dan melupakan pada saat yang tepat”.
    Idealnya, kita bangun diri kita dulu untuk kemudian menjadi modal bagi kita membangun apa yang ingin kita bangun.
    Namun seringkali, antara idealitas kerapkali bersberangan bahkan seringkali kalah oleh pragmatisitas.
    Tegal, tugas kitalah, orang-orang yang memiliki misi dan visi suci, agar mau menceburkan diri ke dalamnya. mengajak elemen generasi mudanya untuk mau sedikit saja melihat ke depan.
    Salah satu faktor kelambatan gairah intelektual di Tegal adalah mandulnya gerakan mahasiswanya (Febri:2008). bukankah masa-masa reformasi dan revolusi di daerah perkotaan penggeraknya adalah kaum intelektual (baca: mahasiswa)? (Huntington: entah tahun berapa)

    sekian dulu ya…
    pikiranku lagi kacau. seakan-akan terpelanting kesana-kemari dan terus-menerus dipentungi gadam-gadamnya Arjuna, Bimashena dan Ghatotkaca. bahkan Hanoman sekalipun seakan ikut-ikutan nyerang

  5. Oh iya Mas, ada kerelevansian yang menarik di buku”mu” yang kemaren sempet kubuka-buka. di situ ada sebuah pertanyaan yang menggelitik: “apakah dinosaurus yang notabene sudah sejak lama punah dari jagat mayapada ini masih meiliki “ide” (baca: alam ide-nya kaum Platonis)
    Thanksss….

  6. “menjawab Ide dengan Gagasan”
    Setidaknya banyak hal yang bisa kita lakukan dari keterbatasan kita sebagai manusia yang amat terbatas.
    Dari saya sangat mengapresiasi ide tersebut walau agak kelihatan mustahil. bagi saya dunia ini menyediakan sangat sedikit sekali kemustahilan. Kebanyakan orang mengatakan mustahil lebih dikarenakan mereka belum menemukan informasi yang cukup untuk melengkapi pengetahuannya.
    Untuk menanggapi gagasan di atas aku malah mempunyai ide baru yang saya anggap ini adalah “step” awal dari lahirnya realita….
    Demi mendukung tegal sebagai kiblat intelektual, bagaimana kalau kita membicarakan IMT sebagai kiblat pengetahuan di masing-masing kampus?????? saya yakin bahwa peran mahasiswa masih tidak jauh dari agent of change…..
    saya mengajak mas Also untuk membuat sistim yang meniscayakan mahasiswa IMT jadi kiblat teman-temannya sesama mahasiswa di kelas, oraganisasi, kampus masing-masing.
    dengan demikian kita dapat mengharapkan mahasiswa IMT benar-benar menjadi mahasiswa dan IMT sejati untuk menjalankan sebuah misi rahasia “menjadikan Tegal sebagai Kiblat Ilmu Pengetahuan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: