Potret Wanita Pesisir dalam “Roman Gadis Pantai”

by,
Ali Eseren

A. PENDAHULUAN

Masuknya penjajah belanda ke nusantara ini, telah membawa sistem sosial masyarakat yang sangat melekat pada masyarakat indonesia.salah satunya sistem sosial feodalisme,yaitu merupakan sistem sosial politik yang memberikan kekuasaan yang besar kepada kepada golongan masyarakat bangsawan. Sistem feodaliasme berkembang di seluruh nusantara ini terutama di daerah Jawa tengah. Dengan kesewenang-wenangan yang disebabkan sistem ini, telah membuat jursng pemisah antara rakyat biasa dengan Golongan bangsawan atau Priyayi. Feodalisme menguntungkan golongan bangsawan namun menyengsarakan rakayat biasa karena tidak memiliki adab dan jiwa kemanusiaan, salah satu dari praktek sistem ini adalah kerja rodi dan perbudakan di gedung-gedung milik para priyayi.
Prmoedya Ananta Toer sengaja menghadirkan sebuah Roman Trilogi ‘Gadis Pantai’ untuk mengungkapakan betapa kejamnya sistem feodalisme jawa pada saat itu yang mengantarkan pada kesengsraan rakyat. Dalam roman tersebut Pram menghadirkan sosok gadis anak anak seorang nelayan yang mewakili sebagai rakyat biasa, mendapatkan perlakuan semena-mena dari seorang bendoro mewakili golongan bangsawan yang tidak lain adalah suaminya. Meskipun perlakuan semena-mena itu bukan berupa perlakuan fisik namun lebih kearah psikis, yaitu dimana dia tidak dihormati sebagai seorang istri, dikekang dan diusir dari kediamanya setelah ia melahirkan anak perempuan hasil dari hubungan dengan bendoro.
Roman tersebut terdiri dari tiga jilid, namun jilid kedua dan ketiga musnah akibat ‘keganasan’ penguasa pada masa lalu. Akan tetapi dari jilid pertama sudah memberikan gambaran mengenai ‘kekesalan’ Pram terhadap sistem feodalisme. Hal ini merupakan perjuangan kepengarangan Pram yang merupakan bagian dari LEKRA yang mengusung perlawanan feodalisme dan mengangkat ideologi realisme sosialis.

B. MASALAH DAN TUJUAN

Permasalahan yang diajukan dalam makalah ini adalah bagaimana Pramoedya mengangkat praktek feodalisme dalam roman trilogi Gadis Pantai ?
Tujuan dari makalah ini adalah menunjukan Kontradiksi negatif praktik feodalisme jawa yang tak beradab dan tak memiliki jiwa kemanusiaan.

C. ANALISIS ROMAN

1.sinopsis

Roman ‘Gadisa Pantai’ menceritakan tentang seorang Gadis Pantai (namanya memang demikian alias tidak memiliki nama) sebagai tokoh uatama. Ia adalah gadis belia dari pesisisir pantai utara Jawa Tengah, di sebuah kampung nelayan yang miskin, berlokasi di Rembang. Tak seperti perempuan pesisir yang berkulit hitam, Gadis Pantai berkulit putih bersuih dengan mata sipit. Kecantikanya memikat hati seorang pembesar santri setempat yang tinggal di kota, yaitu seorang yang bekerja pada administrasi Belanda. Pembesar yang disebut ‘Bendoro’ itu tinggal di seuah Gedung Besar dikota Rembang. Gadis Pantai yang baru berusia 14 tahun itu, dipaksa oleh Emak dan Bapaknya untuk menikah dengan bendoro dengan harapan ia akan menjadi priyayi jika bersedia diboyang ke keresidena (Gedung Besar).sekaligus mengngkat derajat Emak dan Bapaknya. Namun baginya adalah suatu penderitaan karena merasa terkurung dalam penjara.
Pernikahan antara Gadis Pantai dengan bendoro hany diwakili oleh sebilah keris. Hal ini dikarenakan Gadis Pantai hanya dijadikan istri (sementara-)nya, teman seranjang, dan bukan sebagai teman hidupnya. Pernikahan yang sesumgguhnya bagi Bendoro adalah pernikahan dengan wanita priyati yang sederajat dengan dia.
Setelah Gadis Pantai menikah dengan Bendoro, kemudian ia dibawa ke Gedung Besar tempat tinggal Bendoro. Mula-mula Ia merasa sepertidalam “penjara”, Ia hanya bisa berkomunikasi dengan seorang pelayan tua (sahaya) nya, tidak bermain dengan orang lain, tidak sepertio ketika di kampungnya bebas bermain sepuasnya. Namun lambat laun, melalui cerita-cerita dan nasihat-nasihat dari pelayan tuanya, Gadis Pantai luluh dan mengerti apa yang harus dilakukan yaitu mengabdi dan taat kepada bendoro yang tak lain adalah Suaminya. Juga semua yanga ada di gedung tersebut harus tunduk pada Bendoro. Gadis Pantai juaga mulai mengisi hari-harinya dengan kegiatan yang berguna, seperti manyulam membatik dan belajar mengaji yang tentunya semuanya diajarkan oleh gurunya.
Ditahun kedua pernikahanya dengan Bendoro, Ia mulai lebih mengakrabkan diri dengan Bendoro. Apabila ditinggal pergi Bendoro, Ia merasa kesepian dan menjadi pencemburu, karena Ia telah memahami kedudukanya sebagai ‘Wanita Utama’ hanya sementara. Ditahun kedua itu juga pelayan tuanya diusir oleh Bendoro dari Gedung Besar, karwena suatu sebab masalah yang sepele. Hal ini membuat Gadis Pantai merasa kesepian dan merasa tak ada lagi pembimbing bagi dirinya ketika ada suatu masalah. Situasi tambah menjadsi tambah sulit, ketika datang abdi baru bernama Mardinah yang merupakan seorang janda, anak dari priyayi rendahan. Mardinah meruipakan utusan dari istri bupati Demak yang jengkel dengan Bendoro karena belum juga kawin dengan wanita yang sederajat, selain itu juga bertujuan untuk menyingkirkan Gadis Pantai.
Suatu hari Gadis Pantai mendapat izin dari Bendoro untuk mengunjungi Orang tuanya dengan ditemani Mardinah. Dalam perjalanan, Gadis Pantai sangat menikmati. Ia dapat bercanda dwengan kusir dokar yang ditumpanginya. Namun hal sepeti ini dianggap bagi seorng istri priyayi dan Mardinah yang mendampinginya tidak senang dengan ap yang dilakukan Gadis Pantai. Setiba Gadis Pantai di kampungnya, Ia menemukan perbedaan tidak seperti dahulu, kini telah ada jarak antara Dia, kedua Oarang tuanya serta para penduduk kampung. Semua telah menyebutnya ‘Bendoro’ dan Ia merasa asing di tengah-tengah warga kampungnya.
Ketika Ia berada di kampungnya ia mendapat musibah, ada komplotan yang berusaha untuk merampas harta perhiasanya dan menghabisinya. Ternyata Mardinah terliabat dalam komplotan itu, semua warga berniat membuangnya namun mereka tida jadi dan akhirnya warga memberikan Mardinah kepada si Dul (pendongeng yang terkenal di kampung nelayan) untuk hidup bersamanya. Mardinah menerimanya untuk hidup bersama si Dul yang terkenal malasnya, dengan tujuan agar tidak terjadi hal yang parah terhadap dirinya, dan merekapun hidup bersama di kediaman si Dul.
Setelah sekian lama Gadis Pantai pun hamil dan melahirkan anak. Ia melahirkan anak perempuan, menurut ayahnya anak perempuantidak ada gunanya dan tidaka lebih baik dari anak laki-laki. Setelah empat puluh heri kelahiran anaknya, Gadis Pantai disuruh pergi oleh Bendoro, (walaupun sebagai istri dan dikawini secara resmi, Ia tidak mendapatkan apa-apa dalam dunia kepriyayian). Ia tidak boleh kembali dan melihat anaknya. Gadis pantai haruys melupakan anak yang dilahirkanya, Ia kehilangan segalanya. Gdis pantai pun merasa malu untuk pulang ke kampungnya dan akhirnya ia pergi kearah selatan yaitu ke Blora. Kisah gadis pantai jilid I sampai disini.
2. Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik merupakan unsur dari dalam yang membangun sebuah karya satra. Adapun unsur-unsur intrinsik sebuah karya sastra adalah sebagai berikut:
a. Tema
Tema merupakan sesuatu nyang menjadi dasar cerita atau ide dan tujuan utma cerita. Tema biasanya selalu berkaitan dengan penglaman-pengalaman kehidupan sosial, cinta, ideologi, maut, religius dan sebagainya. Dalam sebuah cerita tema tidak disebutkan secara langsung tetapi melalui pemahaman dari isi cerita kita dapat menyimpulkan sebuah tema yang terdapat dalam cerita.
Tema yang disajikan dalam Roman ini adalah mengenai sosio-kritik dalam sistem masyarakat. Bagaimana rakyat kecil yang diwakili oleh Gadis Pantai yang menjadi istri seorang priyayi, diperlakukan oleh priyayi sebagai pemuas nafsunya, di jauhkan dari dunia luar yang menurut piyayi tersebut sebagai dunia yang kotor dan ia dicampakan dan diusir oleh priyayi tersebut dengan alasan dia tak sederajat dengannya.
Adapun kritik yang ditujukan pada sistem feodalisme adalah melalui gambaran dalam cerita yang disebutkan bahwa semua yang ada di Gedung Besar adalah rakyat jelata yang harus tunduk dan patuh pada priyayi, dan mereka tidak patut dihormati.
b. Latar/ Setting
Latar /setting dalam sebuah karya sastra dalah keterangan mengenai waktu, ruang dan suasana terjadinya lakuan. Dalam roman ‘Gadis Pantai’ menghadirkan dua latar ; pertama adalah latar fisik, merupakan latar yang menyaran pada lokasi tertentu atau waktu tertantu secara jelas. Latar fisik yang ditampilkan dalam roman tersebut yang utama adalah sebuah Gedung Besar di kota Rembang dengan penggambaran bentuk dan suasananya. Selain itu juga berada di daerah pesisir pantai utara pulau jawa tepatnya kampung nelayan di rembang dengan gambaran kondisi nelayan; Kedua adalah latar sosial , merupakan menyaran pada hal-hal yang berhubungan pada perilaku sosial masyarakat disuatu tempat yang diceritakan dalam karya sastra. Penceritaan latar sosial hanya menggambarkan di mana yang tergambar, yaitu dengan kondisi masyarakat kampung nelayan yang bodoh (tidak bisa baca tulis), hidup mereka hanya bergantung pada laut. Berbeda dengan kehidupan golongan priyayi yang sangat berlebihan.
c. Alur
Alur merupakan tahapah-tahapan peristiwa yang dihadirkan oleh para pelakudalam sebuah cerita, sehingga membentuk suatu rangkaian cerita. Dikatakan alur karena di dalamnya ada hubungan sebab-akibat. Alur dapat kita perhatikan dari rangkaian-rangkaian peristiwa yang dibangunya. Dengan demikian untuk mengetahui bagaimana alur sebuah cerita rekaan , kita perlu menyimak rangkaian peristiwa yang terdapat dalam karya yang bersangkutan.
Jenis alur yang digunakan dalam roman ‘Gadis Pantai’ adalah alur maju, hal itu tertlihat dari rangkaian kejadian dari gadis pantai yang hidup di kampung nelayan, berubah menjadi seorang priyayi karena menikah dengan priyayi pembesar kota Rembang. Dari situ kehidupan Gadis Pantai menjadi lebih baik, sampai puncaknya ketika ia dapat menyeusaikan dengan kehidupan bendoro. Namun setelah ia melahirakan anak Ia diusir kembali dari gedung besar. Karena sesuai dengan apa yang menjadi janji Bendoro ia tidak akan menjadikan seorang perempuan sebagai pendamping hidupnya kecuali dia sederajat denganya. Adapun pengilasan balik cerita itu hanya sebagai pendukung jalan cerita atau narasi dari roman tersebut.
Pram menyajikan cerita dengan bagian awal cerita sebagai pendeskripsian tokoh utama, yaitu Gadis Pantai yang bertubuh kecil, kulit putih bersih yang hidup di kampung. Di bagian tengahnya menghadirkan konflik baik yang terjadi dalam diri Gadis Pantai atau pun konflik dengan tokoh yang lain. Lalu akhir dari bagian cerita tersebut yaitu keadaan yang memprihatinkan yang terjadi pada diri Gadis Pantai akibat dati ‘keganasan’ praktik Feodalisme. Bagian akhir menunjukan adanya sebuah gambaran dari Pram mengenai feodalisme yang ad di jawa.
Meskipun ada sesuatu akhir jilid I dari roman trilogi Gadis Pantai, maih menimbulkan pertanyaan apakah pada jilid II danIII akan menghadirkan sebuah akhir dari kisah Gadis Pantai.
d. Penokohan
Sesuai kamus besar bahasa Indonesia penokohan dapat diartiakan sebagai pencitraan citra tokoh dalam sebuah karya sastra. Tokoh yang terdapat dalam Roman Gadis Pantai terdapat tiga tokoh. Pertama Yaitu tokoh utama atau tokoh yang mendominasi cerita. Yang menjadi tokoh utama yaitu gadis pantai, digambarkan sebagai tokoh yang menghormati, patuh kepada orng tua dan suaminya. Ia juga selalu ingin memberontak terhadap aturan yang ada di gedung rumah priyayi.
Kedua yaitu tokoh protagonis atau tokoh yang dikagumi sesuai dengan harapan pembaca. Yang merupakan tokohprotagonis pembantu tua yang tinggal di gedung besar, yang selalu memberikan penjelsan atau memberi bantuan kepada tokoh utama. Selain itu juga ada emak dan bapaknya. Ketiga yaitu tokoh antagonis atau tokoh yang tidak disenangi pembaca karena memiliki watak yang tidak sesuai dengan harapan pembaca. Yang merupakan tokoh ini adalah Bendoro yang arogan, sombong, dan kelakuanya merupakan bagian dari system feodalisme. Selain bendoro juga Mardinah dan komplotanya yang berusaha menghabisi tokoh utama.
Penokohan yang digambarkan Pram yaitu melalui deskripsi dan dialog antara tokoh yang satu dengan yang lain.
e. Sudut Pandang
Sudut pandang adalah cara dan pandangan yang digunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita. Dalam penceritaanya pram menggunakan sudut pandang orang ketiga (diaan) maha tahu. Hal itu di tunjukan melalui deskripsi.
‘Ia tak tahu apa yang dihadapanya. Ia hanya tahu: ia kehilangan seluruh hidupnya. Kadang dalam ketakutan Ia bertanya: mengapa ia tak boleh tinggal di mana ia suka, di antara orang-orang tersayang dan tercinta di bumi dengan pantai dan ombaknya yang amis.’(12)
Deskripsi ini menggambarkan ketika Gadis Pantai akan di boyong ke Gedung Besar tempat tinggal Bendoro. Hal ini menunjukan maksud yang ingin disampaikan Pram melalui tokoh Gadis Pantai, mengenai ke-tidaknyamanan tinggal di lingkungan Golongan Priyayi, karena penuh dengan aturan yang memberatkan rakyat kecil.
f. Amanat
Amanat merupakan pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang dari sebuah karya sastra. Dalam roman ini secara eksplisit pengarang memberikan sebuah pesan mengenai kebudayaan jawa hasil daripeninggalan jajahan belanda yang telah menyengsarakan rakyat pribumi dan mereka membodohinya.
‘oh, oh, dewa sejagat kalah bengisnya
matilah dia berani tolak perintahnya
bupati mantra semua priyayi apalagi
orang kecil yang ditakdirkan jadi kuli
dia sandang pedang tipis di pinggang kiri
tapi titahnya wah-wah lebih dahsyat lagi
laksana geledek sambar perahu dan tali-temali
sehela nafas sedepa jalan harus jadi
menggigil semua dengar namanya guntur
semua pada takluk gunung kali dan rawa
pantai dan jalan berjajar panjang membujur
kepala kawula jadi titian orang yang kuasa
[….]
waktu jalan panjang sempurna jadi
kereta-kereta indah jalan tiap hari
bawa tuan-tuan nyonya-nyonya dan putra-putri
tuan besar gubernur jenderal dan para abdi (170-171)
Selain itu juga bila melihat dari deskripsi puisi yang dilantunkan tokoh si Dul, menandakan ketidak berdayaan rakyat, yang badan dan jiwanya telah dikuasai oleh elit kekotaan jawa wakil setempat raja-raja tradisional di Jawa Tengah, serta orang belanda yaitu Gubernur Jenderal Daendels. Orang belanda tersebut membangun jalan pos besar atau yang dikenal jalur pantura. Dengan mengerahkan tenaga seluruh rakyat untu bekerja rodi.

3. Unsur Ekstrinsik

Unsur Ekstrinsik merupakan unsure-unsur yang berada di luar karya sastra, akan tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Seperti kata Robert Stanton serta wellek dan warren bahwa unsur-unsur ekstrisik sangat penting dalam menganalisis karya sastra. Unsur eKekstrinsik berupa;
a. kehidupan Pengarang
Kehidupan pengarang merupakan suatu yang mempengaruhi jenis kepangarangan para sastrawan. Diman ia bekerja , bersekolah ataupun pergaulanya. Pramoedya Ananta Toer merupakan Sastrawan yang lahir di Blora, pada tahun 1925. menurut sejarah ayah Pram menikah dengan Ibunya pada saat Ibunya berumur 15 tahun. Saat Pram ada konflik dengan ayahnya ibunya-lah yang paling menyayanginya dan ialah memperjuangkan kehidupan keluarganya walaupun dalam keadaan sakit. Maka tak heran apabila ia sangat sayang pada ibunya.
Dalam kepengaranganya Pram banyak menceritakan tentang wanita yang hampir menjadi manusia teladan, yang berani dan tabah , yang tetap memperjuangkan kemanusiaanan keadilan. Dalam roman Gadis Pantai, Pram terinspirasi oleh eorang wanita yang tak lain adalah neneknya dari ibu, ia bernama satimah. Satimah adalah wanita yang dijadikan selir oleh kakeknya, Penghulu Rembang. Tetapi setelah melahirkan anaknya (ibu pram), satimah di enyahkan dari gedung tuanya. Satimah adalah waniata yang periang, tabah,tak kenal putus asa, rajin, dan seorang pekerja sejati. Ia dari keluarga miskin, meskipun miskin dia tetap menyayangi cucu-cucunya dengan selalu memberikan hadiah kecil.
Meskipunpram tidak tahu banyak tentang neneknya namun dari situ, nenk satimah merupakan prototype Gadis Pantai.
b. Keadaan Masyarakat
Pram merupakan gambaran dari masyarakat jawa kebanyakan yang tertindas oleh Kolonial Belanda. Namun Ia tidak seperti orang jawa kebanyakan yang menyerah dengan keadaan. Pram memiliki kesadaran nasional yang kuat, ketabahanya dalam melawan segala apa yang dianggap tidak adil, pengalamanya tentang masalah-masalah social dalam masyarakat jawa pengertianya tentang pendidikan sebagai sarana untuk membangun bangsa dan manusia yang bebas dan merdeka.
Ia hidup di mana pada saat itu penjajah belada tengah berkuasa di nusantara ini terutama di daerah jawa tengah. Dan pada saat itu pula praktik-praktik kolonialisme belanda, salah satunya feodalisme. Melihat keprihatinan yang telah melanda rakyat pribumi, pram merasa keadaan seperti itu harus segera di rubah. Pram bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat(LEKRA). Kumpulan sastrawan dan seniman yang memperjuangkan nasib rakyat melalui karya-karyanya.
Dalam mukadimah LEKRA terdapat tulisan mengenai revolusi agustus yang tidak lain adalah mengenai usaha pembebasan diri rakyat Indonesia daripenjajahan dan peperangan serta penjajahan dan feodalisme.
Melalui karyanya Roman ‘Gadis Pantai’ Pram berusaha untuk ‘menusuk’ praktik feodalisme jawa yang tidak mengenal adab dan jiwa kemanusiaan.

D. KESIMPULAN

Penjajahan belanda mengakibatkan adanya sistem feodalisme yang menjalar kedarah daging para Priyayi Jawa. Kedaan ini adalah sebuah sistem social masyarakat yang mengakibatkan ketidak-adilan, kebodohan, kebobrokan mental, serta tidak adanya pemerataan ekonomi. Praktik-praktik Feodalisme belanda masih terasa hingga kini, masih membekas tentang kerja paksa”Rodi”,yang telah menginjak-injak harga diri rakyat kecil. Juga perbudakan sek yang dilakukan oleh raja-raja Jawa, Priyayi dan para petinggi Belanda.
Pram melalui Roman ‘Gadis Pantai’ berhasil menguak kebengisan sistem feodalisme jawa. Dengan teknik kepengaranganya Roman ini berhasil menjadi Roman sosio-kritis. Yang memperjuangkan rakyat kecil dan terutama wanita-wanita jawa yang dijadikan selir para priyayi.
Dengan adanya roman ini kita berharap di masa sekarang tidak ada lagi praktik-praktik Feodalisme.

DAFTAR PUSTAKA

DEPDIKNAS, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2007, edisi kedua.
Laela sari.s.s dan Nurlaela .s.s., Kamus Istilah Sastra. Bandung: Nuansa Aulia, 2006.
Mahayana, maman.s, 9 Jawaban Sastra Indoensia. Jakarta Timur: Bening Publishing, 2005
Rosidi, ajip, Ikhtisar Sejarah Sastra. Bandung: Binacipta, 1976
Teeeuw.a, Cerita Manusia Indonesia Dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer. Jakarta: Pustaka Jaya, 1997.
Toer, Pramudya Ananta, Roman Gadis Pantai. Jakarta Timur: Lentera Dipantara, 2003.

About IMT ( Ikatan Mahasiswa Tegal ) Ciputat

Organisasi independen mahasiswa yang terdiri dari mahasiswa asal Tegal dan ada keterkaitan dengan Tegal yang menimba ilmu di daaerah ciputat dan sekitarnya agar menjadi wadah persatuan dan pengembangan dalam memajukan skill dan knowledge masing-masing mahasiswa sehingga menjadi pribadi yang bermanfaat baik untuk diri sendiri dan masyarakat Tegal sekitarnya.

Posted on 21 Januari 2009, in Olah Bahasa and tagged . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. wah kalow di IMT yang cocok jd wanita pesisir guse……
    soalen wis mbahenol………….

  2. Kasihan banget ihh, guse!!
    apa-apa yang jelek pasti guse,
    padahal kayakmu kamu yang buruk ya,
    buat nutupin keburukan kamu, kamu jelek-jelekin orang lain.
    aku nggak suka deh!!!!
    aku benci!!!
    benci banget!!!!

  3. wah bener juga kasihan guse wis jelek dijelk-jelekna juga.
    kudune sing wis jelek aja dijelek-jelekna….
    aku juga yakin seyakin-yakinnya guse ora usah dijelek-jelekna wis jelek dewek……

  4. gua malah senang dengan gadis pesisir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: