MIMPI NUMERIK SEMUT-LEBAH DAN HIJAIYAH BANGAU

Ujungkidul-Nunjauhdisana, 08 Januari 2009

Sudah beberapa minggu ini aku diresahkan oleh mimpiku. Mimpi ini terjadi berulang selama tiga kali. Walau tidak persis sama di setiap mimpiku – dan tidak terjadi secara berurutan hari tapi berselang dan acak – namun terbersit di hatiku bahwa mimpi-mimpi itu memiliki kepaduan.

Aku merasa resah karena ada yang bilang kalau mimpi satu-dua kali itu ngigau, berasal dari resam yang tersembunyi di dasar hati. Kalau orang psikolog akan bilang, mimpi itu menyeruak dari alam bawah sadar seseorang. Bahwa masalah yang sudah tidak disadari oleh seseorang, tapi ia mempengaruhi seseorang, atau menjadi khayalan seseorang; maka ia akan keluar dengan sendirinya melalui mimpi.

Ada pula yang bilang bahwa mimpi satu-dua kali itu berasal dari syetan. Sebagai orang yang tidak memahami agama, aku tidak tahu apakah kata ‘syetan’ di sini adalah seperti syetan yang dimaksud oleh agama (yang dilaknat sampai akhir zaman oleh Allah), ataukah syetan dalam artian lain. Seperti kata ‘setan alas, luh!’ Atau seperti makian orang gara-gara diputus pacar, ‘dasar, setan. Kamu lebih kejam dari setan mana pun.’ Aku tidak tahu persis yang mana.

Sementara kalau sampai mimpi tiga-belas kali, orang bilang berasal dari mbahnya setan, mungkin gandaruwo atau kalongwewe. Di sini saya bertanya, apa betul gandaruwo atau kalongwewe itu mbahnya setan? Sepertinya bukan deh (maaf, tidak memakai dong yang kurang memenuhi selera pembaca). Orang bilang numerik 13 itu pertanda sial, mblai, dan semacamnya. Itulah mengapa hampir seluruh gedung-gedung bertingkat – baik di dalam negeri maupun luar negeri – tidak ada lantai 13. Adanya lantai 12A. Hehe, di sini jelas manusia lebih cerdas dari siapa pun, termasuk syetan. Bisa ngakali.

Beruntung mimpiku cuma tiga kali (mudah-mudahan tidak berlanjut lagi mimpiku itu), yang kata orang beragama (Islam), ‘itu berasal dari Tuhan’. Seperti Nabi Ibrahim ketika bermimpi perihal perlunya menyembelih puteranya, Nabi Ismail. [Mohon dikoreksi kalau salah. Maklum, aku bukan orang yang paham agama.]

Mimpiku ini aneh dan tak biasa. Bukan mimpi bergandengan dengan gadis pujaan seperti biasanya aku bermimpi. Bukan mimpi bermesraan dengan gadis-gadis seperti lazimnya aku mengkhayal. Bukan pula mimpi tentang seekor katak yang ingin menjadi pangeran seperti kudengar dalam kisah Jepang. [Sabar ya Mas/Mbak membaca tulisanku.]

Mimpi pertama aku disodorkan pampangan semesta raya yang amat luas dan artistik. Dari gugusan galaksi yang tak terhitung jumlahnya sampai ke galaksi spiral Andromeda yang terdekat dengan galaksi kita. Setelah itu aku diajak mengelilingi (barangkali oleh Jibril) galaksi di mana kita sendiri berada, Bima Sakti. Dari situ, lalu terpampang gemintang yang jumlahnya serupa rambut kita yang tak bisa dihitung hingga kemudian pampangan Tata Surya. Ada matahari di mana kita dihidupi oleh Tuhan melaluinya. Dari matahari aku dibawa menikmati indahnya Merkurius, Venus, Mars, Yupiter, dan, Saturnus. Sebelum turun ke bumi, aku pun sempat dibawa mengunjungi Sedna, Orcus, Xena, Quaoar, dan ketiga planet kerdil atau katai: Pluto, Ceres dan UB 313.

Pertama kali turun ke bumi aku menjejakkan kaki di kutub Selatan dan Utara, lompat-lompatan seperti bayi. Ada glacier di situ, amat sejuk. Di situ aku melihat glacier yang mulai meleleh. Kata malaikat, “lihat di atas sana, plastik orson sudah pada robek-robek.” Dari situ aku diajak mengelilingi rimba raya. Malaikat menunjuk sangar, “tuh, rambut pak kebun botak.” Tidak berhenti di situ, aku dibawanya meliuk-liuk di peraspalan kota-kota besar. Malaikat berkata cepat, “tutup hidungmu, sebelum keracunan.”

Selepas itu aku diajak menelisik satu daerah entah di mana. Yang aku tahu aku orang Indonesia, jadi aku yakin malaikat tidak membawaku ke luar negeri. Menaiki punggungnya yang bersayap lebar dan amat indah (maaf, susah dilukiskan. Termasuk wajahnya, amat menggemaskan), aku dibawa masuk ke gedung-gedung pejabat. Malaikat berkata gusar, “lihat perut mereka, buncit semua! Lihat kaki mereka, ongkang-ongkang semua! Kalau Tuhan mengizinkan, aku hempaskan mereka sekarang juga.”

Kemudian aku di bawa terbang lagi, dari pelosok demi pelosok desa. Malaikat berkata lirih, dengan sayap menunjuk pelan, “lihat, itu rakyatmu, butuh pembelaan. Kalau Tuhan mengizinkan, sudah aku bantu mereka. Tapi Tuhan tidak mengizinkanku. Itu adalah tugasmu.. Menyatukan mereka, untuk melabrak si tua-buncit dan membantu si kecil-buncit.”

Memang, di situ aku melihat realitas yang membuat bulu kudukku berdiri, antara ngeri dan geram. Aku saksikan beribu anak kecil berperut buncit dengan badan yang begitu kurus dan bermata cekung. Berjuta ibu bermata sayu dengan wajah yang kering. Berpuluh juta bapak terseok-seok mengail makanan di sebuah jurang yang tidak ketahuan dasarnya. Anehnya, aku melihat berpuluh-puluh juta generasi muda asyik bersenda gurau. Cuek-bebek. Wajah mereka aneh. Tahu tapi seperti tak mau tahu. Tahu tapi tak mau membantu.

Setelah itu, aku dibawa ke surga sebentar. Aku mandi madu (persis lagu). Juga mandi susu (persis ratu). Dari surga aku di bawa ke tengah-tengah hutan, menikmati aneka hewan dan beribu jenis binatang. Termasuk semut. Aku saksikan mereka sedang berbondong-bondong mengangkuti barang-barang – yang jelas sekali belasan kali lipat lebih besar dari tubuhnya – ke suatu tempat. Aku dibawa terbak agak meninggi oleh malaikat, agaknya untuk mencipta view secara makro.

Aku terpana, aku lihat bondong-bondongan mereka membentuk angka 91320. Ketika aku sedang menikmati keindahan parade semut itu, aku tersentak. Bukan oleh apa-apa, tapi tiba-tiba parade itu goyang akibat ada hembusan angin hutan. Belum genap parade itu kocar-kacir, dari satu lubang aku mendengar teriakan semut, “Yakinkan kekuatan kalian! Kencangkan parade! Kuatkan barisan!” Ini mimpi pertama.

Mimpi kedua, dengan pampangan tidak persis sama, terakhir aku diajak menelisik gua demi gua. Ketika aku tanya, “Bril, kita ini mau ke mana?” Ia tidak menjawab. Sebetulnya ia mau menjawab, tapi sepertinya takut dibilang menyampaikan wahyu. Jadi ia hanya menyimpul senyum. Tiba-tiba sayap Jibril menunjuk ke angkasa. Seketika mataku mengikuti gerakan sayapnya, dan kusaksikan di sana rombongan lebah sedang menuju satu tempat tidak jauh dari satu pohon di dekat gua. Mataku makin menajam, dan kian lama rombongan itu kian jelas berparade menunjuk angka 930. Tiba-tiba ada suara senapan yang membuat parade itu rusak dan hampir kehilangan arah. Namun, belum sempat parade itu berantakan, ada teriakan amat lantang dari dalam parade, “Satukan niat! Bulatkan tekad! Mantapkan parade! Rumah kita pasti jadi!” Parade pun kembali kuat dan terbang menuju sarang yang masih dibangun itu.

Mimpi ketiga, muga-muga ini mimpi terakhir, dengan sedikit variasi tempat di mana Jibril membawaku, terakhir kali aku diajak menyusuri samudera demi samudera. Dari Samudra Arktik ke Samudra Atlantik ke Samudra Pasifik ke Samudra Antarktika baru ke Samudera Hindia. (Acak ya… namanya juga mimpi. Terbang semaunya Jibril).

Ketika sedang melintas di atas Samudera Hindia kami berpapasan dengan tiga gulungan awan putih yang amat tebal dan berisik. Sekedip-mata malaikat membawaku terbang menyamping. Betapa terpananya aku, kusaksikan gugusan putih itu ternyata sekumpulang burung bangau yang terbang dengan rapi dan artistik. Tiba-tiba rombongan itu berakrobat, dan sekejap kemudian melesat teratur ke posisi seperti yang telah dicanangkan Tuhan, membentuk tiga huruf hijaiyah: Alif, Mim, dan Ta.

Semenit kemudian (ini waktu di dunia mimpi, semenit bisa berarti sejam, sehari, setahun, bahkan bisa jadi seabad; terserah malaikat, atau mungkin terserah yang bermimpi), angkasa tiba-tiba gelap tertutupi gegumpalan awan yang pekat disertai badai. Sejenak kemudian guntur membahana, “Dhuar!” Formasi Alif-Mim-Ta pun bergetar, dan hampir buyar. Tapi bangau-bangau itu tetap terbang walau dengan formasi yang oleng. Kembali guntur membahana bersama kilatnya. Formasi pun makin oleng. Guntur kembali menggelegar. Formasi Alif-Mim-Ta mulai acak. Kadang Alif di tengah, kadang di ujung kanan. Ta pun demikian. Bersamaan dengan guntur yang kembali menggelegar, tiba-tiba bangau-bangau berteriak kencang, menjadi gelegar melebihi guntur, “Masa depan di tangan kita! Maju terus! Kita bersatu! Pasti berhasil! Lawan Halilintar!”

Gelegar itu saling beradu. Bertalu-talu. Membangunkan aku. Sejurus kemudian mengumandang, “Allahu Akbar Allahu Akbar….. dst.” Aku pun beranjak ke kamar mandi. Tentu saja kencing dulu, baru latihan berwudlu, dan latihan shalat.

Begitu pembaca, aku masih resah memaknai mimpi-mimpiku. Apa maksud angka 91320? Nomer 930? Huruf Alif-Mim-Ta? Apakah ini perlambang kemenanganku kalau memasang togel? Makna apakah di balik mimpiku itu? Pesan apakah Jibril kepadaku? Ini mimpi untukku atau untuk siapa? Mohon dibantu, supaya jiwa dan pikiranku tenang kembali.*

Matur kasuwun,

gumeralingjagad

Mahasiswa tegal kreatif lan suka sinau

About IMT ( Ikatan Mahasiswa Tegal ) Ciputat

Organisasi independen mahasiswa yang terdiri dari mahasiswa asal Tegal dan ada keterkaitan dengan Tegal yang menimba ilmu di daaerah ciputat dan sekitarnya agar menjadi wadah persatuan dan pengembangan dalam memajukan skill dan knowledge masing-masing mahasiswa sehingga menjadi pribadi yang bermanfaat baik untuk diri sendiri dan masyarakat Tegal sekitarnya.

Posted on 20 Januari 2009, in Olah Bahasa and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: