AWAS BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA

photo-muiz7

Pada Sabtu (17/01/2009) kemarin, saya mendapat kiriman sebuah essai yang begitu menarik dari salah seorang teman milist. Ada yang begitu menarik di dalamnya; sebuah taktik untuk kita terus membaca tulisan Mas Pry secara utuh.

Mungkin inilah aplikasi taktik sastra yang saya pelajari dulu bahwa judul sebuah tulisan harus memancing pembaca untuk tetap membaca….

Saya kutip essai dari Mas Pry yang menarik tersebut di sini. Semoga bermanfaat.


Berenang Kita di Google yang Dangkal

Sebuah Curhat Otokritik

“BERANI TARUHAN!! KAMU NGGAK BAKAL KUAT

BACA TULISAN INI SAMPAI HABIS SEKARANG!!!! “

Banjir bandang itu benar-benar datang setelah Nuh dan para pengikutnya naik ke sebuah perahu besar yang sudah sejak jauh hari dipersiapkan. Dan dalam waktu sekejap, negeri kaum kafir penyembah berhala itu pun tenggelam tanpa menyisakan apa-apa. Hingga lambat-laun banjir pun surut, Nuh dan pengikutnya tadi memulai kehidupan baru yang lebih baik di bumi.

Tentu kita semua mengenal penggalan kisah di atas. Banjir bandang di zaman Nuh adalah kisah yang bisa kita jumpai hampir di semua kebudayaan dunia. Kisah ini juga banyak didiskusikan mulai dari kalangan agama, baik Yahudi, Nasrani, dan Islam, hingga ke kajian-kajian ilmiah dan penelusuran arkeologi.

Sempat juga ada perdebatan sengit yang mempertanyakan, apa kisah ini betul-betul pernah terjadi di masa lalu, bagaimana kita menemukan bukti-bukti arkeologisnya hari ini, apakah banjir ini berskala lokal di satu daerah saja, ataukah ia terjadi secara global menyapu seluruh permukaan bumi kita di masa itu, dll dsb.

Namun terlepas dari segala perdebatannya, saya percaya betapa kisah banjir bandang Nuh ini hendak menyiratkan sesuatu, yakni ada suatu kekuatan `lain’ dari alam semesta yang lebih besar dari yang bisa dicegah, ditanggulangi, dan diatasi oleh manusia itu sendiri. Bahwa kita manusia dianugrahi dengan segala keterbatasan.

Dan kini di abad 21, kita paham bahwa zaman Nuh memang telah lama lewat. Bisa dipastikan tak ada satupun dari kita semua yang sempat menyaksikan betapa dahsyatnya banjir bandang paling mengerikan di kala itu. Peristiwa ini pun sekarang cukup kita jadikan pedoman teologis keagamaan, kita hayati dalam-dalam, atau sekedar kita jadikan catatan sejarah masa lalu.

Tapi kehidupan peradaban di abad 21 ini juga, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bahwa ada banjir bandang lain yang tampaknya tengah kita renangi bersama tanpa sadar. Banjir bandang kali ini memang bukan berasal dari kekuatan `lain’ di luar manusia, sebab ia justru hadir di hadapan kita karena kita sendiri yang menciptakannya.

Banjir bandang ini juga tidak berupa air bah seperti yang terjadi di zaman Nuh. Banjir bandang nan dahsyat kali ini, yang selanjutnya akan saya sebut sebagai banjir Nuh abad 21, adalah banjir informasi yang kian hari kian menyesaki setiap relung kehidupan dan aktivitas sosial kita sekarang.

Sebuah banjir Nuh abad 21 yang sedang membuat kita terseret-seret dan megap-megap ke dalam riuh-derasnya perkembangan teknologi komunikasi dan internet, membawa serta arus informasi yang datang dan pergi bertubi-tubi, tanpa kita sempat kita punya waktu dan konsentrasi untuk mencerna apa isi dan kandungan pesan informasinya itu.

Bukannya kebetulan bila saya memilih kisah Nuh di atas sebagai pembuka. Sejak awal ide ini muncul dalam benak minta dituliskan, saya membayangkan bahwa esai ini nantinya akan dibuka dengan penggalan kisah dahsyat yang mendebarkan nan terkandung pesan bijak tersebut sebagai bahan renungan dan refleksi untuk kita semua yang hidup jauh setelah bencana dahsyat itu terjadi.

Sebelum memasuki pembahasan selanjutnya, saya bakal sedikit menceritakan pengalaman saya di balik penulisan teks yang tengah kawan-kawan hadapi sekarang. Ketika mulai merencanakan menulis esai ini, awalnya saya membutuhkan beberapa informasi acuan sebagai bahan referensi. Ini merupakan hal yang biasa saya lakukan setiap saya hendak menulis sesuatu. Dan kali ini untuk tema yang tengah saya angkat sekarang, saya memutuskan mencari informasi bertemakan tentang banjir bandang yang pernah terjadi di zaman Nuh.

Memang betul bahwa kehadiran teknologi teknologi dan internet hari ini, membuat kegiatan saya menulis seperti kian dimudahkan. Dulu waktu saya masih SMP di mana internet belum marak seperti sekarang, saya mesti berhadapan dengan petugas perpustakaan yang kaku dan mejanya yang dingin berdebu, untuk meminjam setumpuk buku tebal yang bakal jadi referensi tulisan saya ataupun tugas dari sekolah. Itu pun lengkap dengan bonus tangan pegal-pegal karena capek mencatat ulang berhalaman-halaman, atau kadang langsung saya fotokopi saat punya uang jajan lebih.

Tapi di tahun 2008 ini, saya dan jutaan penulis lainnya cukup duduk manis berhadapan dengan layar komputer yang terkoneksi internet. Dus, seluruh dunia bisa kami kunjungi dalam sekejap. Berbagai dokumen, artikel, kajian ilmiah dan informasi lainnya bisa dijangkau cukup dengan menggeser tetikus yang menunggu untuk di-klik kanan dan klik kiri.

Sekilas memang, teknologi mampu membebaskan penderitaan kami sebagai penulis, paling tidak dalam hal mencari referensi bahan tulisan. Selamat tinggal wahai penjaga perpus yang berkacamata tebal dan membosankan. Selamat tinggal buku-buku tebal-berat yang berdebu. Kemungkinan besar, mulai sekarang kami tak membutuhkan kalian lagi.

Maka alih-alih pergi ke perpustakaan besar yang terkenal lengkap bukunya, langkah pertama ketika hendak menuliskan esai ini, dengan entengnya saya belok ke sebuah warnet di pinggir jalan sekitaran Malabar dekat tempat kost saya di kawasan Bogor.

Di warnet kecil nan apek berasap rokok itu, saya cukup mengarahkan tetikus masuk ke sambungan internet di komputer, mengetikkan alamat laman mesin pencari yang kerap disapa mbah Google itu. Kemudian memasukkan kaca kunci `banjir bandang Nuh’, dan tekan enter.

Cukup semudah itu, kawan-kawan! Maka dalam sepersekian detik saja, si mbah sakti yang baik itu telah membantu saya mendapatkan beragam tautan laman berisi segala macam informasi yang saya butuhkan tentang banjir bandang Nuh itu.

Kalau saya tak salah mengingat, layar komputer di hadapan saya saat itu memunculkan sekitar 20 halaman tentang banjir bandang Nuh, yang di masing-masing halamannya berisi sekitar 20 tautan ke berbagai laman yang berbeda lagi. Jadi kalau ditotal-total pakai hitung-hitungan, dalam waktu 0,049 detik saja mbah Google telah menghadapkan saya pada 400 informasi berbeda. Semuanya berisi tentang peristiwa banjir Nuh!!

Hmmm. Ada yang terasa ganjil memang.

Saya yakin bahwa jumlah 400 informasi tersebut masih bisa meningkat lagi. Karena masing-masing tautan informasi tentang banjir Nuh itu, akan selalu terhubung ke tautan lain lagi yang juga bertautan-tautan dengan informasi lainnya dan begitu seterusnya. Semuanya ini menimpa saya seolah-olah tiada akhir dan tanpa rujukan awal.

Hingga tak berapa lama seiring saya membuka tautan itu satu-persatu, sesuau yang awalnya saya rasakan ganjil tadi kini menjelma wujudnya, sesuatu yang mungkin bisa disandangkan dengan kehebohannya kaum kafir Nuh ketika banjir bandang itu datang. Ya kawan-kawan, saya merasa telah kebanjiran informasi, lebih dari apa yang awalnya saya butuhkan.

Selepas dari warnet, saya sudah membawa pulang informasi untuk bahan tulisan sebanyak 100 halaman lebih berupa artikel, gambar foto, dan hasil penelitian ilmiah terkait dengan banjir Nuh. Yakni temuan ratusan halaman berisi informasi yang tentu saja akan sangat menyiksa bila mesti saya pelototi satu persatu.

Lagi pula berani jamin, saya tak akan punya cukup waktu untuk membaca utuh kesemuanya itu hanya demi menyelesaikan satu buah esai iseng yang tengah saya selesaikan sekarang. Toh kalau kawan-kawan lihat lagi pembuka esai ini, ternyata saya hanya sanggup menuliskannya dalam satu paragraf singkat saja.

Sia-siakah yang saya lakukan dengan mbah Google tadi? Hmm.. Saya belum berani menjawab. Satu hal yang pasti, mulai sekarang saya mengidap kegemukan (obesitas) informasi. Bayangkan saja, setiap pagi ketika membuka akun surel saya, puluhan surat yang berisi macam-macam informasi masuk tanpa ampun ke kotak pesan bertubi-tubi. Entah itu pesan penting dari rekanan, surat sapaan dari sahabat, terusan surat dari mailing list, atau sekedar iklan online dan spam yang sudah pasti langsung saya hapus.

Sudah dua tahun belakangan ini saya memang banyak menghabiskan waktu online. Entah sekedar berseluncur ke berbagai laman, mengunjungi berbagai tautan menarik, atau sekedar blogwalking-an. Dan setelah semuanya itu saya lalui, pelan-pelan saya mulai merasakan ada yang berubah dari diri saya sekarang.

Dan yang berubah dari diri saya itu adalah cara saya membaca dan berkonsentrasi. Khususnya ketika saya sedang membaca informasi secara online, konsentrasi saya bisa buyar loncat ke kanan mampir ke kiri. Sulit rasanya untuk membaca dengan intens berbagai dokumen dan artikel sebuah laman, ataupun sekedar posting-an di blog ketika saya online.

Konsentrasi saya biasanya langsung buyar segera setelah membaca paragraf ketiga dan keempat. Di paragraf-paragraf selanjutnya, minat baca saya juga sudah luntur karena tergoda berbagai tautan dan gadget lainnya yang minta di-klik juga. Paling-paling kalau memang tulisan itu penting dan menarik, saya cukup menyimpannya ke hard disk komputer, yang belum tentu juga akan saya baca lagi. Hehehe…

Apa boleh buat, kini setiap sedang online, saya mesti merelakan otak saya melompat-lompat dari satu informasi ke informasi lainnya, dari satu tautan ke tautan lainnya, dengan kemampuan konsentrasi yang kian hari saya rasakan kian menurun. Dan parahnya, tuntutan pekerjaan saya sekarang juga membuat saya mesti terjebak dengannya.

Dulu ketika belum begitu ketergantungan internet, saya sanggup menghabiskan berpuluh-puluh halaman buku dengan cara baca yang intens dan terkonsentrasi. Setelah habis satu buku, baru saya lanjutkan membaca buku lain dengan cara dan konsentrasi yang sama. Dari situlah saya mendapatkan manfaat dan kenikmatan membaca, saya mulai hobi mengkoleksi buku, hingga Ibu saya sekarang selalu curiga buku apa lagi yang akan dibeli anaknya ini di gajian bulan depan.

Konon, dari berbagai teknik membaca yang dulu pernah saya pelajari ketika kuliah dulu, membaca adalah kegiatan yang membutuhkan teknik dan keahlian tersendiri. Dengan begitu, kita bisa mendapatkan manfaat maksimal dari yang kita baca. Makanya salah satu dosen saya bilang, membaca bukanlah kegiatan yang bisa sambil lalu saja dilakukan.

Saya pun mulai belajar bagaimana caranya membaca yang baik. Ternyata ada berbagai macam teknik membaca yang masing-masing punya tujuan tersendiri.

Misal saja membaca scanning, yaitu teknik membaca dengan utuh mulai dari kata, kalimat, paragraf, hingga ke seluruh karangan, hinga kita bisa paham inti paragraf dan maksud dari sebuah karangan itu ditulis. Scanning itulah yang dulu saya gunakan ketika hendak membaca sesuatu yang saya anggap penting dan perlu.

Kalaupun kita hendak membaca dengan cepat demi tujuan tertentu saja, teknik yang bisa kita gunakan adalah skimming. Teknik skimming inilah yang biasa saya gunakan setiap berkunjung ke toko buku yang tak memungkinkan saya berlama-lama di sana. Dalam kata lain, skimming adalah teknik membaca yang tak benar-benar membaca, tapi hanya sekedar melihat-lihat.

Tapi kini saya sadar, bahwa setiap sedang online, saya tak pernah lagi membaca scanning. Justru yang selalu saya lakukan hanyalah membaca skimming, alias melihat-lihat saja.

Dan, Wow, tunggu dulu, stop dulu Pry, ujar saya dalam hati.

Saya juga belum tahu apakah kawan-kawan juga tengah merasakan hal yang sama. Bahkan ketika kawan-kawan membaca esai saya hingga ke paragraf 35 ini, apakah kawan-kawan benar-benar membaca atau sekedar melihat-lihat saja sekarang? Saya belum berani menjawabnya. Toh esai ini masih belum hendak selesai sampai di sini saja. Di paragraf-paragraf selanjutnya, saya akan mengajak kawan-kawan masuk ke pembahasan pokok yang lebih serius nan sok filosofis teoritis mengenai banjir Nuh abad 21 ini. Jadi, siap-siaplah berkonsentrasi mulai sekarang. Hehehehe…

Banjir Nuh Abad 21

Konon, ketika Patih Gajah Mada masih menguasai Nusantara dengan Majapahitnya, alat penyampai informasi jarak jauh paling canggih saat itu adalah kentongan dan asap. Selebihnya, hanya kurir-kurir setia itu yang mendaki gunung turuni lembah untuk menyampaikan pesan kerajaan ke berbagai orang di berbagai wilayah, itupun membutuhkan perjalanan berhari-hari bahkan sampai berbulan-bulan baru pesannya bisa sampai.

Informasi dan pesan komunikasi jarak jauh masih menjadi `barang’ mewah saat itu. Sebuah pesan dan kabar berita yang baru yang datang dari tempat lain, adalah peristiwa luar biasa yang sangat jarang terjadi. Kalaupun mereka mau tahu informasi terbaru apa saat ini, biasanya mereka sendiri yang harus mencarinyam, baik di tempat-tempat pertemuan warga, di pasar, alun-alun, ataupun di pelabuhan yang ramai.

Tapi manusia pintar. Mereka menciptakan teknologi komunikasi untuk mengatasi jarak ruang dan waktu secara geografis. Manusia pelan-pelan mulai menguasai jarak tersebut dengan memampatkannya. Jarak yang harusnya ditempuh berbulan-bulan untuk menyampaikan sebuah informasi , kini dalam waktu sekejap saja dapat sampai secepat mungkin ke sebanyak mungkin orang lewat telegraf, telepon, radio dan televisi.

Pemampatan ruang-waktu inilah yang membuat dunia serasa makin sempit saja seiring tingginya kebutuhan masyarakat akan berbagai informasi. Pemampatan ruang-waktu ini jugalah yang nyatanya tak hanya memampatkan jarak dunia secara geografis, tapi juga dengan telak membuat manusianya centang perenang tenggelam dalam cepatnya arus informasi itu sendiri yang datang dan pergi bertubi-tubi.

Lihat saja keseharian kita sekarang, kawan. Setiap pagi, saat kita buka koran terbaru, di situ akan tercetak belasan, puluhan, bahkan ratusan informasi terkini tentang bermacam-macam peristiwa dari segala penjuru dunia saling berdesak-desakan. Juga saat kita buka kotak pesan surel kita kita, setiap harinya akan ada belasan, puluhan, bahkan ratusan informasi berdesak-desakan yang secara bersamaan pula minta diperhatikan.

Esok harinya, semuanya itu telah menghilang dan dengan cepat digantikan dengan informasi yang lebih baru lagi, dan begitu terus tanpa kita tahu kapan semuanya berakhir. Dan hebatnya lagi, semua terjadi tanpa perlu kita bepergian kemana-mana untuk mencari informasi, justru informasi itu sendirilah yang datang sendiri pada kita.

Kini kita pun bisa mengucapkan selamat datang pada banjir Nuh Abad 21. Sebuah banjir informasi dimana kita tak hanya akan mengidap obesitas informasi, tapi juga dibuat mabuk oleh kecepatan informasi itu sendiri. Inilah zaman dimana pola kehidupan sosial kita telah mencapai apa yang disebut Jean Baudrillard sebagai pola implosi (implosion), yakni meledaknya informasi ke arah manusia (sebagai pusat) yang berdiam diri di tempatnya masing-masing. Sebuah banjir, bahkan boom informasi meledak tepat di jantung peradaban manusia abad ini.

Yasraf Amir Piliang melukiskan fenomena ini demikian, “di dalam boom informasi itu, tidak berarti bahwa semua informasi itu berguna dan dapat meningkatkan kualitas hidup. Kecepatan informasi kadang-kadang tidak sebanding dengan kemampuan manusia daslam menyerapnya. Informasi datang begitu cepat dan begitu raksasa, sehingga kadang-kadang terlalu cepat dan besar untuk dapat diserap oleh pikiran manusia.” (2004;65)

Bahaya Laten Internet Bagi Otak

Pada 1970, Pemerintah Amerika Serikat mencanangkan tahun tersebut sebagai tahun dimulainya Dekade Membaca. Membuat Gedung Putih ikut sibuk mengalokasikan sejumlah Dana Federal untuk mendukung berbagai usaha yang dapat mengenalkan warganya mengenal seni membaca sejak dini.

Berbagai klub membaca dan kursus membaca pun jadi marak. Sekolah-sekolah dan fakultas juga mulai mengadakan pelatihan membaca bagi anak didiknya. Bahwa yang tengah dilakukan Amerika saat itu adalah mengoptimalkan kemampuan membaca dengan baik, dan dengannya pengetahuan mereka bakal terbentuk dengan baik pula.

Tapi kini semuanya mulai berubah. Seiring meningkatnya konsumsi kaum muda Amerika akan internet, mereka mulai mengkhawatirkan tumbuh-suburnya benih-benih anti-intelektualism e sebagai akibat dari perkembangan teknologi internet yang pesat belakangan ini.

Apa pasal? Rupa-rupanya, mereka menyadari bahwa ada yang tengah berubah dari cara mereka membaca secara tradisional dalam bentuk cetakan, dengan membaca ketika sedang online di internet.

Adalah Nicholas Carr dalam sebuah artikelnya yang mengaku mulai kehilangan kemampuannya membaca dengan fokus. Carr yang menengarai hal tersebut akibat kebiasaannya berseluncur ke berbagai laman, loncat dari satu halaman ke halaman lainnya, berpindah dari satu tautan ke tautan berikutnya. Dan setiap Carr mulai membaca sebuah artikel secara online ia mengaku demikian, “Now my concentration often starts to drift after two or three pages. I get fidgety, lose the thread, begin looking for something else to do.”

Dan Carr tidak sendiri. Simak juga pengakuan Bruce Friedman, seorang patologis dari University of Michigan Medical School yang juga pengelola blog tentang penggunaan komputer di bidang kesehatan.

“I now have almost totally lost the ability to read and absorb a longish article on the web or in print . . . I can’t read War and Peace anymore. I’ve lost the ability to do that. Even a blog post of more than three or four paragraphs is too much to absorb. I skim it,” terang Friedman yang dikutip juga oleh Carr.

Tak sampai di situ, simak juga penelitian tentang online habits yang digelar University College London beberapa waktu lalu. Mereka meneliti tentang kebiasaan pengunjung dua laman populer yang menyediakan akses infomasi tentang artikel, e-books, dan sumber informasi tertulis lainnya.

Dan hasilnya bisa ditebak, kebanyakan pengunjung laman tersebut hanya melihat-lihat, membaca tak lebih dari dua halaman artikel atau buku, untuk selanjutnya puindah lagi ke sumber lain. Mereka mungkin bakal menyimpan file artikel tersebut, tapi itu bukan jaminan juga mereka benar-benar membacanya.

Carr kemudian juga mengutip keresahan Maryanne Wolf, seorang psikolog dari Tufts University. Gaya membaca online yang mengedepankan etos kesegeraan dan keefisiensian, menurut Wolf, dikhawatirkan dapat melemahkan kemampuan seseorang untuk membaca dengan seksama.

Sebab menurutnya, membaca bukanlah kemampuan alamiah manusia. Kita mesti melatih otak kita untuk menerjemahkan simbol karakter dan huruf yang kita lihat ke dalam bahasa yang kita pahami. Untuk itu, media dan teknologi yang kita gunakan ketika membaca, memainkan peran penting dalam membentuk pola sirkuit syaraf dalam otak kita.

Dari sini ingatan saya pun beralih pada teori komunikasi yang saya pelajari dalam kelas matakuliah Filsafat Komunikasi semasa kuliah dulu. Bahwa media komunikasi tak sekedar alat untuk menyampaikan pesan komunikasi, tapi juga secara kreatif akan membentuk konstruksi realitas tertentu dalam benak manusia yang menerima dan memaknai pesan tersebut. Tak heran bila karakter media juga dipandang mampu membentuk proses berpikir seseorang.

Asumsi inilah yang kemudian bisa kita lekatkan pada internet sebagai media komunikasi massa online yang punya karakter khas dan berbeda dengan media komunikasi lainnya. Bahwa jelas sekarang, ditengah-tengah pujian, pemujaan dan ketergantungan banyak orang akan internet, ternyata ia menyimpan bahaya latennya sendiri. Internet –dengan segala banjir Nuh, kecepatan dan obesitas informasinya– lambat laun niscaya melemahkan konsentrasi otak kita.

Dari sini baru muncul pertanyaan, adakah kita menyadari hal tersebut? Perlukah saya ulangi lagi pernyataan Pascal 30 tahun silam di sini yang berkata, “Saat kita membaca terlalu cepat atau terlalu lambat, kita tidak akan mengerti apa-apa.”

Kata Siapa Google Tak Membuat Kita Bodoh?

Sebelum menutup esai ini, saya ingin mengucapkan selamat bagi anda kawan-kawan pembaca sekalian yang dengan betahnya (hehehehe… ) mengikuti pembahasan saya dan sampai pada bagian ini. Apalagi bila kawan-kawan mampu membaca esai ini sambil online dengan intensitas yang terjaga dengan baik dan mampu memahami konsep-konsep kunci yang telah saya uraikan di atas.

Kalian tahu, kawan.. kemungkinan besar di masa depan akan sangat jarang ada pembaca yang mampu menghabiskan berhalaman-halaman tulisan secara online seperti yang sedang anda lakukan sekarang. Jadi bolehlah saya sebut anda ini adalah spesies pembaca yang langka dan semakin sedikit jumlahnya. Soalnya, saya sendiri belum tentu bisa lho membaca online panjang seperti kalian. Hehehehe..

Tapi asal tahu saja, para penulis pun setali tiga uang. Sudah semakin sedikit penulis yang bisa menulis esai panjang seperti saya ini. Jadi, anda bisa bilang juga saya ini termasuk spesies penulis yang langka. Hehehehe lagi..

Sejak awal saya memang sudah curiga bahwa akan ada banyak pembaca lain –yang entah di belahan bagian mana sekarang– yang sudah menyerah di paragraf ketiga ketika membaca esai saya ini.

(Atau bisa saja anda dengan curangnya melewati saja paragraf-paragraf di atas, dan langung menuju ke bagian ini karena judulnya yang membuat perhatian anda berhenti, lalu mulai lagi membacanya)

Lagipula bisa dipastikan mereka bakal menganggap esai ini toh tak terlalu penting untuk dibaca. Paling-paling yang mereka lakukan cuma sekedar melihat-lihat esai ini saja, mengarahkan halaman di layar monitornya ke atas ke bawah, pusing karena tumpukan huruf yang panjangnya ampun-ampun ini, trus geleng-geleng sendiri sambil sambil berkata, “Busyeeh, ni anak nulis apaan seeh..”

Kalaupun dibaca, kemungkinan besar kebanyakan dari mereka bakal meninggalkannya setelah paragraf ketiga esai ini, untuk lanjut berseluncur lagi ke laman-laman lain, berkunjung ke berbagai tautan menarik, atau sekedar blogwalking-an.

Ya kawan-kawan, inilah paradoksnya banjir Nuh Abad 21 kita sekarang. Bahwa semakin banyak dari kita yang membutuhkan informasi lewat internet, semakin banyak pula informasi tak berguna datang menghampiri kita. Dan kalaupun memang penting, tetap saja kita bakal kesulitan konsentrasi membacanya.

Dan semakin bergantung pula kebanyakan dari kita pada internet, semakin berubah saja gaya hidup keseharian kita. Gaya hidup kita ini kelak bakal berkembang menuju ke gaya hidup real time, yakni pola hidup yang mengharuskan segala sesuatu dilakukan lewat saluran internet, sebab ia memenuhi hasrat kita akan kecepatan, kesegeraan, dan keefisiensian. Yakni gaya hidup real time yang jelas-jelas kian mengabaikan makna proses.

Saya berani bilang bahwa yang tengah saya sampaikan di sini bukan sekedar celotehan pinggiran, kawan. Karena baru kemarin siang saya ketemu dengan orang yang untuk mencari tanggal di kalender saja mesti melihat di Google dulu.

Mbah Google bagi kawan saya ini, mungkin bukan lagi dimaknai sekedar program mesin pencari laman yang dikembangkan oleh Larry Page dan Sergey Brin ketika mereka masih mahasiswa di Universitas Stanford sepuluh tahun yang lalu.

Nama Google sendiri sejatinya merupakan plesetan dari `googol‘ yang merujuk pada angka 1 yang diikuti oleh seratus nol. Tak heran bila Google baginya, mungkin saja juga sudah ditarik maknanya ke wilayah teologi, menjadi mbah sakti yang pintarnya melebihi otak manusia biasa, menjadi sumber pengetahuan dan kebenaran, bahkan Google sebagai Tuhan Digitalnya hari ini.

Kalaulah benar gurauan Page dan Brin bahwa mereka tengah menyiapkan Google, menjadi sebuah mesin intelegensia buatan bernama H.A.L yang bisa ditanamkan di otak manusia, mungkin saja kawan saya itu bakal salah satu orang yang mencobanya. Dan sudah pasti dia bakal lebih pintar dari saya, karena otaknya terhubung langsung dengan internet. Canggih khan kawan saya itu?! Hehehehe…

Atau anda pun berminat mencobanya? Mari kita tunggu kabar terbaru dari tempat `Tuhan’ baru kita itu bersemayam di Googleplex sana.

17 Januari 2009, Baranangsiang, Bogor

*) Esai `Berenang Kita di Google yang Dangkal, Sebuah Curhat Otokritik‘ oleh Pry S. Esai ini juga bisa diakses di http://prys. ilovebogor. com/. Rujukan Utama: `Dunia Yang Dilipat’, Yasraf Amir Piliang, Penerbit Jalasutra, 2004 & `Is Google Making Us Stupid? What The Internet is Doing To Our Brains’, Nicholas Carr, www.theatlantic. com, 2008

Sudah selesai membacanya? Terima kasih.

Dari lubuk hatiku yang terdalam, saya ucapkan berton-ton permintaan maaf. Maaf dari sanubariku yang terdalam karena telah mengacaukan emosi kalian dengan menampilkan tulisan ini.

Saya berani taruhan. Kalian semua yang sudah bersusah payah membaca tulisan ini bakalan menggerutu dalam hati. Ya dongkol, ya enek, ya nggremeng dalam hati (atau bahkan sampai ulu hati eneknya).

Itulah kenapa saya sengaja mengatur dengan aksen font yang berwarna-warni. (Bocah TK kan senenge sing warna-warni: maksude sing durung nalar)

Tapi “Aku” yakin, kalau kalian semua mau membaca essai di atas dengan teliti, kesadaran imaji yang sehat, emosi yang wajar dan keinginan untuk mendapatkan intisarinya, kalian semua pasti hanya akan tersenyum-senyum kaya tulup di ketek.

Sebentar. Ada yang perlu dijelaskan dan ditekankan di sini. Ini diperlukan. Sungguh!!!

Sebenarnya ada satu alasan mendasar yang membuatku begitu tertarik untuk menyunting essai di atas di Blog kita ini; Adalah keberadaan buku karya Yasraf Amir Piliang berjudul “Dunia Yang Dilipat”.

Buku tersebut adalah satu diantara beberapa buku yang sudah kuburu hampir dua tahun lebih dari mulai saya kelas dua Aliyah (SMA). Namun sungguh ironis, sampai detik ini hingga Saya menginjak semester tiga di bangku kuliah belum juga saya dapatkan. Bahkan untuk sekedar pinjam pun begitu sukar, karena memang sangkin langkanya buku tersebut. KJayonge sa-Ciputat laka sing duwe!!!

Pada pertengahan November tahun lalu (2008) sebenarnya saya sempat melihat buku tersebut sewaktu ada bazar buku di Kantin Dakwah. Ironis, hanya karena alasan klasik saya tak jadi mendapatkannya. laka duite!!!

Bisane dadine curhat yah…. hehehe…

Sepisan maning. Ngapuntenneeeee….. nemen ya….

Aja pada nggrutu ya…

Disunting oleh: Muhamad Muiz L—Mahasiswa Tegal UIN Jakarta Kreatif dan Menggairahkan Juga Beragama.

About IMT ( Ikatan Mahasiswa Tegal ) Ciputat

Organisasi independen mahasiswa yang terdiri dari mahasiswa asal Tegal dan ada keterkaitan dengan Tegal yang menimba ilmu di daaerah ciputat dan sekitarnya agar menjadi wadah persatuan dan pengembangan dalam memajukan skill dan knowledge masing-masing mahasiswa sehingga menjadi pribadi yang bermanfaat baik untuk diri sendiri dan masyarakat Tegal sekitarnya.

Posted on 17 Januari 2009, in NEw Entry and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: