Roemah Tahanan Mental

Pendidikan diduga kuat merupakan institusi yang paling strategis untuk mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan. Mungkin kita sudah memahami dengan benar bahwa, sebagaimana Eric Fromm, tugas seorang pendidik adalah membantu anak didik untuk mencuatkan potensi-potensi khas yang ada di dalam diri anak didik. Pendidikan memang dapat dipadankan dengan kata education. Education sendiri berasal dari bahasa Latin, Educare, yang berarti “menarik keluar”. Apa yang ditarik keluar? Yang ditarik keluar adalah potensi-potensi yang tersimpan di setiap anak didik.

Banyak metodologi pembelajaran dalam pendidikan yang hanya memperhatikan aspek guru (subjek) pendidikan dan tidak memberikan ruang yang banyak terhadap objek pendidikan yaitu sisiwa. Padahal menurut Dani ronnie M dalam bukunya “ The Power of Emotional and Adversity Quotient for Teachers” peranan seorang guru tidak jauh dari peranan seorang tukang kebun yang menyiapkan lahan kebunya untuk ditanami pohon-pohon. Sang tukang kebun tadi hanya sebatas mempersiapkan lahan untuk pertumbuhan poho-pohon tersebut, dia tidak ikut campur dalam hal pertumbuhan pohon, buah pohon dan lain sebagainya, dia hanya memelihara tanaman itu dan tidak mengintervensi buah apa yang akan dihasilkan dari tanaman yang dipeliharanya.
Mungkin gambaran di atas dapat menjabarkan bagaimana peranan guru dalam mendidik muridnya. Peranan pendidik tidak lebih dari peranan tukang kebun terhadap tanamannya. Akan tetapi banyak sekali para guru khususnya guru matematika yang sungguh angkuh dan bahkan memaksa siswanya untuk mengikuti kemauannya bahkan memaksa untuk menjadi seperti dirinya.
Tidak ada alasan, tak perlu mencari kambing hitam. Karena memang banyak yang bisa menyebabkan kegagalan, namun tak satupun yang pantas dijadikan excuse. Seperti apa yang dibisikan oleh Rudyard Kipiling, “kita memiliki empat puluh juta penyebab kegagalan, namun tak ada satupun merupakan pembenaran!”. Ada lagi yang berpesan, “orang gagal biasannya kelebihan satu alasan, orang-orang sukses selalu saja kelebihan satu cara”.
Dari beberapa pernyataan di atas dapat penulis simpulkan bahwa pengajar (guru) tidak hanya masuk ke kelas bertemu para pembelajar, menyuruh ini-itu dan melarang ini-itu lalu keluar kelas dan pulang. Inikah yang kita anggap proses belajar mengajar? Kalau Cuma ini kita tak perlu mengikuti pendidikan yang tinggi-tinggi atau training yang hebat-hebat. Semua orang bisa melakukannya bahkan, orang yang tahu sedikit baca tulis ditambah sedikit wawasanpun bisa.
Mengajar itu akan efektif dan menggairahkan apabila kita menyatukan hati dan jiwa dengan pembelajar kita. Sehingga kita tahu persis apa yang mereka rasakan dan inginkan, karena kita berada di sisi yang sama. Kita memandang aktivitas belajra dari sudut pandang mereka. Setiap gerak hati dan suara-suara halus di jiwa mereka bisa kita tangkap dengan kejelian sang nurani. Kita tahu bagaimana membuat mereka berharga, termotivasi dan gembira, karena kita adalah mereka dan mereka adalah kita. Kita melebur dengan segala totalitas yang ada. Kita larut, menyatu dan all out! Pada level ini kita tidak perlu lagi memberi reward dan punishment. Yang ada semata-mata kegairahan belajar. Sebuah insting yang memang manusia miliki sejak lahir.
Seperti kita ketahui bersama para siswa belajar dengan kecepatan yang berbeda-beda, bukan satu, dan belajar dalam cara yang berbeda-beda. Mereka memiliki minat yang berbeda dan bakat-bakat khusus. Karena manusia adalah unik, maka tampaknya aneh jika sekolah mengharapkan para siswa untuk belajar dalam situasi yang sama dari satu buku teks atau metode pelajaran yang sama.
Lalu bagaimana dengan para siswa yang berlatar belakang berbeda, mempunyai kebiasaan berbeda, cita-cita berbeda dan lain sebagainya yang tidak mungkin disamakan?
Hal ini mengungkapkan betapa pentingnya untuk tidak menyamaratakan kemampuan siswa, akan tetapi bukan untuk membeda-bedakan. Tujuan peneliti adalah untuk membuat para siswa belajar sesuai karakteristik dan pola belajarnya.
Dalam dunia nyata manusia terbagi menjadi dua golongan besar yaitu laki-laki dan perempuan, walaupun terdapat golongan waria. Penting bagi penulis untuk dapat mengetahui karakteristik masing-masing untuk dapat membantu mereka dalam pengoptimalisasian potensi individu, bukan menjadikan sekolah tidak lebih dari rumah tahanan untuk menampung kaum muda.

Lembaga hukuman di mana anak-anak dipaksa mengisi waktu selama bertahun-tahun.

MMG

Mahasiswa Tegal Kreatif dan Kontruktif

About IMT ( Ikatan Mahasiswa Tegal ) Ciputat

Organisasi independen mahasiswa yang terdiri dari mahasiswa asal Tegal dan ada keterkaitan dengan Tegal yang menimba ilmu di daaerah ciputat dan sekitarnya agar menjadi wadah persatuan dan pengembangan dalam memajukan skill dan knowledge masing-masing mahasiswa sehingga menjadi pribadi yang bermanfaat baik untuk diri sendiri dan masyarakat Tegal sekitarnya.

Posted on 10 Januari 2009, in Tulisan Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: