IMAN DAN REVOLUSI

Sebuah Rekontruksi Teologi Islam Tradisional

Dewasa ini, kalau kita berbicara gerakan pemikiran Islam di Indonesia bisa dikatakan masih relatif jarang yang concern membahas problem sosial dan kemanusiaan dalam perspektif keagamaan (baca: tafsir keagamaan). Bahkan bisa dikatakan gerakan pemikiran Islam yang ada belum membuka diri pada kemodernan pemikiran secara sadar. Karena itu, implikasinya agama tidak dapat memberikan solusi dan jawaban atas problem sosial dan kemanusiaan yang dihadapi masyarakat muslim kontemporer. Hal ini terlihat dengan kegagapan ketika menghadapi persoalan seperti HAM, demokrasi, pluralisme agama dan kesetaraan gender. Kegagapan pemikiran Islam ini diungkapkan dengan baik oleh Mohammed Arkoun:

Pertama, pemikiran Islam itu “naif ” karena mendekati agama atas dasar kepercayaan langsung dan tanpa kritik.

Kedua, pemikiran Islam tidak menyadari jarak antara makna potensial terbuka yang diberikan dalam wahyu Ilahi dan aktualisasi makna itu dalam sejumlah makna yang diaktualisasikan dan dijelmakan dalam berbagai cara pemahaman, penceritaan dan penalaran khas masyarakat tertentu, atau pun dalam berbagai wacana ajaran khas aliran teologis (kalam) dan fikih (mazhab) tertentu.

Ketiga, pemikiran Islam juga tidak sadar akan berbagai faktor sosial, budaya, psikis, politis dan lain-lain yang mempengaruhi proses aktualisasi tersebut.

Keempat, pemikiran Islam juga tidak menyadari bahwa proses itu bukan hanya mengakibatkan pemahaman dan penafsiran tertentu ditetapkan dan diakui, melainkan pemahaman dan penafsiran lain justru disingkirkan.

Pendek kata, secara tersirat Arkoun ingin menegaskan bahwa pemikiran Islam yang berjalan selama ini hanya mengakibatkan pembekuan nalar umat Islam dan penutupan agama, ideologi dan revoulsi merupakan unsur-unsur yang ternyata tidak dapat diingkari potensinya untuk mensukseskan atau sebaliknya merusak bagi sebuah upaya untuk membangun masyarakat.

Hal itu juga berlaku bagi Islam, agama langit (din samawi) terakhir yang diturunkan oleh tuhan ke bumi, sebagaimana terbukti dalam sejarahnya yang sudah berlangsung empat belas abad. Mengingkari hal ini berarti membuat islam menjadi hanya sebuah agama ibadah dalam artian sempit atau paling jauh agama hukum.

Islam bergulat sebuah agama yang mementingkan tindakan (dirumuskan dalam sebuah amal), dengan ideologi dan revolusi. Pergulatan itu terkadang mengambil bentuk sekedar menyerap, tanpa diolah terlebih jauh, premis-premis yang ditawarkan ideologi ataupun revolusi. Namun terkadang terjadi juga dialog intensif antara Islam dengan keduanya. Karena bagaimanapun juga, ideologi tidak selamanya menghasilkan revolusi, dan revolusi seringkali dilancarkan terhadap ideologi yang sedang menikmati kemapanan.

Ada dua tipe masyarakat.

Pertama masyarakat tradisional yang sumber inspirasinya masih berupa tradisi. Ia membawa sistem nilai-nilai dan merupakan argumen bagi kekuasaan. Secara historis, masyarakat di Afrika, Asia dan Amerika Latin berasal dari tipe ini. dalam masyarakat ini, tradisi merupakan arus utama dalam sejarah. Pembangunan tidak pernah berlangsung tanpa memertimbangkan tradisi-tradisi yang hidup ini. tradisi-tradisi ini memberikan weltanschauung kepada rakyat dan menentukan bermacam-macam motivasi untuk bertindak. Pembangunan sekuler didasarkan atas perekayasaan manusia. Tujuannya untuk mengubah infrastruktur masyarakat tradisional dalam upaya meningkatkan kemajuan yang seimbang di tengah berbagai kegagalan super-struktur.

Kedua masyarakat non-trdisional atau yang disebut masyarakat modern, yang telah melewati periode kritik terhadap tradisi. Dalam masyarakat ini, tradisi tidak lagi menjadi sumber nilai. Ada beberapa sumber pengganti dan norma-norma tindakan pengganti, seperti akal dan alam. Pengetahuan sejarah yang berupa serita menjadi subjek bagi kritik paling akurat.

KERANGKA KONSEPTUAL

Sistem-kepercayaan tradisional dimulai dengan analisis terhadap kerangka konseptual yang menjadi dasar terbentuknya sistem kepercayaan. Pengantar teoritis ini hampir tidak mengembangkan apapun hingga setelah ia menjadi sesuatu.tidak mengembangkan apapun hingga setelah ia menjadi sesuatu.tidak mengembangkan apapun hingga setelah ia menjadi sesuatu.

Apakah kepercayaan atau sistem-kepercayaan itu?

Kepercayaan atau sistem kepercayaan merupakan suatu ensambel konsep-konsep yang menentukan persepsi-persepsi manusia tentang dunia dan memberikan motivasi-motivasi kepadanya untuk bertindak. Sebuah visi yang sederhana tentang dunia dan komitmen dengannya. Ia bukan misteri yang melampaui akal atau keputusan yang buta dan berubah-ubah tentang kehendak yang menggantikan kapasitas manusia.

Perkembangan sistem-kepercayaan

Setiap sistem kepercayaan berkembang dari gabungan antara teks-teks suci dan kelompok-kelompok kepentingan.

Pertama, ia dimulai dengan penggunaan teks baru itu sendiri secara sederhana tanpa tindakan-tindakan teorisasi. Teks itu sendiri tanpa disertai akal, akan menjadi argumen kekuasaan. Kebutuhan akan suatu teori kemandirian yang didasarkan atas fakta yang tersusun belum juga muncul (abad I dan II).

Kedua, ia berkembang kepada bermacam-macam topik tanpa memunculkan suatu tema umum.

Ketiga, berbagai topik yang brmacam-macam terikat dalam prinsip-prinsip atau asas-asas yang dipersiapkan untuk suatu struktur yang jelas. Teologi pun mencapai puncaknya sebagai suatu disiplin (abad V, VI dan VII). Sistem-kepercayaan mencapai derajat rasionalisasi yang tinggi.

Keempat, setelah disisplin rasional yang merupakan kekuatan-kekuatan krearifitas dalam semua ilmu kebudayaan dan keagamaan lain berakhir hingga ujungnya, sistem-kepercayaan yang sebagian besar telah lengkap mengalami kegagalan dan kembali ke fase pertama. Iman menjadi mandiri tanpa pemahaman ataupun tindakan. Kepercayaan dipelihara sebagai dogma tanpa disertai rasionalisasi.

Struktur sistem-kepercayaan warisan terbagi menjadi dua bagian.

Pertama, kepercayaan-kepercayan rasional, yaitu kepercayaan-kepercayaan yang berupa benar dan menolak doktrin-doktrin yang salah. Kerpercayaan-kepercayaan ini ada dua bentuk yaitu pengesaan tuhan (mentingkap dzat dan sifat-sifat tuhan) dan keadilan tuhan (menyingkap perbuatan-perbuatan, kehendak dan peraturan-peraturan tuhan).

Kedua, keprecayaan-kepercayaan tekstual, yaitu kepercayaan-kepercyaan yang hanya bergantung pada argumen-argumen tekstual tanpa didasarkan atas fakta internal yang tersedia. Tidak ada kriteria benar dan salah, kecuali dengan memperhatikan derajat itensitas histories terhadap argumen tekstual.

TEORI PENGETAHUAN

Risalah-risalah tradisional tentang kepercayaan dimulai dengan teori tentang pengetahuan untuk menjawab pertanyaan pertama “bagaimana mengetahuinya”, sebelum pertanyaan yang kedua “apa yang harus diketahui”.

Pengetahuan terdiri dari dua macam, yaitu pengetahuan alam dan pengethuan teoritis. Yang pertama lahir dalam diri manusia bersama dengan kelahirannya. Yang kedua diperoleh dari dunia luar. Yang pertama adalah bukti yang berasal dari indera dan yang kedua adalah pemikiran berdasarkan atas kumpulan pengalaman yang berasal dari indera, perasaan atau akal manusia yang sangat mendasar.

Kemudian hadir pengetahuan sejarah, yaitu pengetahuan yang datang lewat cerita dn teks-teks, penetahuan yang datang melalui riwayat lisan atau tulisan. Wahyu telah terkomunikasikan kepada manusia melalui tipe pengetahuan ini. namun demikian cerita tidak bisa begitu saja digunakan sebagai argument tanpa bukti sensual atau rasipnal. Teks adalah argument otoritas bukan argument rasional. Suatu argument tekstual akan tetap bersifat hipotesisi jika jika tidak ditunjang oelh argument sensual atau rasional. Ia harus tetap tunduk kepada interpretasi-interpretasi linguistik kepada aturan ampibologis.

Suatu kepercayaan adalah untuk dipercaya, bukan untuk dirasakan atau difahami. Argumen tekstual kini berdiri sendiri sebagai auatu Argumen mandiri yang membuktikan dan meyakinkan “firman tuhan” dan “nabi”. Rekontruksi teori pengetahuan mengakibatkan ia kembali kepada integrasinya pada masa permulaan. Ini akan memberikan peluang kepada masyarakat muslim yang sebenarnya utnuk bergantung kepada persepsi sealitas, serta behubungan langsung denga watak dan rasionalisasi dunia. Analisis terhadap pengaaman sehari-hari mengarah kepada pengetahuan eksperimental. Berfikir dalam realitas dan berfikir atas data rasional akan membawa lagi teori pengetahuan ke depan objeknya, yakni dunia lahir. Dengan demikian, sistem-kepercayaan dapat dibuka kembali dan ditarik kembali dari keterasingannya yang mengorientasikan diri lagi kepada dunia.

TEORI KEBERDAAN

Teori pengetahuan adalah untuk menjawab pertanyaan “bagaimana mengetahui” dan mengarh kepada dunia lahiriah. Sedngkan teori keberadaan untuk menjawab pertanyaan “apa yang harus dilakukan”, yang menganggap dunia lagiriah sebagai objek pengetahuan. Jiak teori pengetahuan mengarah kepada akal, maka keberadaan mengarah kepada alam. Seluruh sistem kepercayaan harus dimulai dengan menentukan hubungan antara akal dan alam. Meski kita membahas suatu sistem kepercayaan, namun objek pengetahuannya buakan tuhan adau kehidupan abadi, melain keberadaan materi dan dunia lahiriah.

SEJARAH MANUSIA

Ramalan dan eksaktologi telah menampakkan sejarah ketuhanan. Dalam hal ini tuhan mencapurtangani dengan mengirim nabi-nabi yang membawa wahyu dan dengan membawa kembali seluruh dunia kepadaNya untuk pengadilan terakhir. Oleh karena itu sejarah tercermin dengan iman dan tindakan, dan dengan kepemimpinan dan revolusi. Fungsi masa lalu adalah untuk memberikan kumpulan pengalaman kepada masa sekarang. Fungsi masa depan adalah untuk memberikan harapan kepada masa sekarang. Masa sekarang adalah peran waku yang menjadi basis masa lalu dan masa depan.

IMAN DAN AMAL

Manusia diajak membuktikan kesetiaan pada tuhan melalui perhubungan secara langsung. Nabi-nabi dan Rasul-rasul sebelum Nabi Muahmmad SAW terpaksa meyakinkan pengikut mereka tentang wujudnya tuhan melalui perbuatan dan tindakan.

internal Apakah iman itu? Apakah iman hanya sekedar pengatahuan yakni pengetahuan tentang dzatsifat-sifat dasn perbuatan tuhan bahkan tanpa merasakannnya dalam kata-kata ataumentransformasikannya ke dalam praksis? Iman sebagai pengetahuan itu sendiri merupakansuatu pengetahuan kosong yang sederhana. Ia jauh kecil lebih dibandingkan dengan yang dituntut wahyu sebagai motivasi bagi amal. Apakah iman merupakan gabungan antara ilmupengetahuan dn perasaan itu sendiri, tanpa eksteriosasi dalam kata-kata dan dalamtindakan-tindakan. Pengetahuan dan perasaan tiu sendiri merupakan dua dimensi dari duniakesadaran. Namun demikian kesadaran adalah internal dan sekaligus eksternal. Pengetahuan dan erasaan tidk dapat diprtahankan untuk mencakup kesdaran karenarealisasinya ke dalam kata-kata dan tindkan-tindakan berlangsung secara alami dengan kekuatan ekseteriosasi

muin

terinspirasi oleh mas also

About IMT ( Ikatan Mahasiswa Tegal ) Ciputat

Organisasi independen mahasiswa yang terdiri dari mahasiswa asal Tegal dan ada keterkaitan dengan Tegal yang menimba ilmu di daaerah ciputat dan sekitarnya agar menjadi wadah persatuan dan pengembangan dalam memajukan skill dan knowledge masing-masing mahasiswa sehingga menjadi pribadi yang bermanfaat baik untuk diri sendiri dan masyarakat Tegal sekitarnya.

Posted on 4 Januari 2009, in Tulisan Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. sing tulisane akeh jarang sing mbaca….

  2. bener kweh. sungkan mbacane. tapi mesti bae ana sing fuwe keperluan ding.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: