PERAN PEMUDA DALAM MEMBANGUN SEKTOR PERTANIAN*

Oleh: Suswono**

PENDAHULUAN

Pembangunan pertanian pada dasarnya adalah pendayagunaan seluruh potensi sumberdaya pertanian dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, kebijakan yang perlu ditempuh adalah dengan cara menggali dan mengoptimalkan seluruh potensi sumberdaya (SDA, SDM, kelembagaan, dan teknologi) serta memberdayakan masyarakat agar mampu mengelola potensi tersebut secara produktif dan efisien untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Salah satu potensi yang memiliki peran kunci adalah sumber daya manusia (SDM) yang konsern dan memiliki komitmen membangun sektor pertanian. Kualitas sumber daya manusia memiliki makna yang penting karena segala sumber daya yang ada tidak dapat berjalan optimal dan terberdayakan dengan baik apabila tidak dimainkan oleh SDM yang handal, berintegritas, dan memiliki komitmen kuat.

Sejarah perjalanan bangsa membutkikan bahwa SDM – SDM yang memiliki komitmen tinggi dan kekuatan yang besar sebagian besar didominasi oleh kalangan muda. Dengan segala idealisme dan keyakinannya akan masa depan bangsa, tentunya masyarakat yakin bahwa elemen muda dengan sifat reformis lah yang dapat diharapkan dapat membangun bangsa ini jauh lebih baik dari masa-masa sebelumnya.

Dalam usia Republik yang sudah memasuki 63 tahun, tentunya kita berharap banyak akan semakin banyaknya para pemuda dan pemimpin yang memiliki integritas, kapasitas, dan kapabilitas untuk membangun jati diri bangsa sebagai negara agraris. Disinilah tantangan besar para kaum muda. Ditengah-tengah ancaman krisis pangan dunia, tingkat ekonomi petani yang sulit untuk beranjak, dan tekanan sektor lain terhadap lahan pertanian, maka peran pemuda tentunya akan menjadi salah satu angin segar tersendiri dalam membangun sektor pertanian negara kita.

KONDISI PERTANIAN NASIONAL

Kalau kita mempelajari indikator makro, pada saat ini terlihat bahwa ekonomi Indonesia kita telah menunjukkan tanda-tanda membaik menuju ke kondisi sebelum krisis dengan naiknya angka pertumbuhan ekonomi. Namun demikian, apabila kita memperhatikan tingkat kesejahteraan petani dapat dilihat dari besaran Nilai Tukar Petani (NTP), produktivitas, aspek lingkungan hidup, perkembangan usaha pertanian, daya saing, efisiensi dan berbagai variabel Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index). Dari parameter-parameter tersebut, kita dapat menyatakan bahwa masih banyak tantangan yang harus kita hadapi untuk memajukan pertanian kita, yang pada umumnya baru sampai pada tahap ”bertahan hidup”.

Kehidupan petani, khususnya petani pangan di Jawa, belum banyak berubah. Kalaupun ada, kemajuan itu terjadi pada segelintir elite desa. Sementara jutaan petani lainnya, hanya dapat bertahan hidup di atas lahan pertanian yang semakin hari semakin menyempit, sebaliknya ada juga yang lahannya semakin melebar sebagai akibat belum optimalnya perangkat hukum di bidang pertanahan, serta hukum ekonomi pasar yang seringkali kurang berkeadilan. Jumlah petani gurem bukannya berkurang, tetapi semakin meningkat.

Harga riil komoditas primer pertanian yang dihasilkan petani semakin hari semakin berkurang nilainya dibandingkan komoditas industri, biaya pendidikan dan kesehatan yang mereka butuhkan. Demikian pula biaya angkutan, harga sarana produksi yang selalu meningkat. Sebuah paradoks, upah buruh tani yang dirasakan oleh pemilik lahan dan penggarap semakin meningkat, bagi buruh tani masih belum cukup, sehingga banyak yang berangan-angan untuk ramai-ramai bekerja sebagai buruh kasar di negara lain.

Di sisi lain, petani Indonesia terkesan dibiarkan bersaing di dalam sistem pasar yang belum berkeadilan. Petani seringkali frustrasi saat harga komoditas primer yang mereka hasilkan, jatuh pada saat mereka panen dan akhirnya membusuk di lapangan karena mereka tidak memiliki fasilitas pengolahan yang memadai dan karena mereka juga tidak memahami bagaimana cara memasarkannya dengan baik. Harga pasar tersebut tidak mampu menutupi biaya panen. Kondisi ini semakin memberatkan apabila kita melihat titik berat pembangunan negara kita saat ini terkesan menomorduakan sektor pertanian. Berapa banyak kucuran dana dan investasi digelontorkan untuk sektor industri dan jasa, sementara di sisi lain, petani kesulitan memperoleh permodalan usaha.

Namun demikian, beberapa hal yang tampak menggembirakan adalah dengan menggeliatnya pembangunan sektor pertanian dalam dua tahun kebelakang. Tercatat pada tahun 2008, negara kita telah mampu mencukupi kebutuhan pangan dan tidak melakukan impor. Kontribusi petani dalam negeri ini sangat besar mengingat harga pangan dunia melonjak 3 sampai 4 kali lipat. Dengan keberhasilan ini, devisa negara tidak harus dikeluarkan untuk mengimpor beras.

Dalam rangka pemberdayaan petani, pemerintah melalui Departemen Pertanian telah melaksanakan berbagai program, antara lain berupa pendidikan formal, pendidikan non-formal (penyuluhan, pendampingan), penguatan modal usaha kelompok (PMUK), penguatan modal Lembaga Usaha Ekonomi Perdesaan (LUEP), penjaminan kredit dan lain sebagainya.

Pada periode 2007, pertanian kita juga tercatat memperoleh peningkatan dalam hal produksi jagung dan padi. Untuk itu, strategi penguatan ekonomi dengan program pengembangan usaha agribisnis pedesaan (PUAP) yang memberikan pinjaman usaha untuk petani, bantuan benih unggul, pemberdayaan lembaga masyarakat seperti pesantren, dan bantuan sarana pertanian diharapkan dapat mengatasi masalah-masalah kronis pasca krisis ekonomi 1998.

Sejalan dengan Rencana Pembangunan Nasional Jangka Menengah (RPJMN) tahun 2004-2009, dalam rangka memperkokoh dan mensinergikan pembangunan sektor pertanian dengan sektor-sektor lainnya, maka perlu dirumuskan strategi dan kebijakan Revitalisasi Pertanian. Revitalisasi Pertanian mengandung arti sebagai kesadaran untuk menempatkan kembali arti penting sektor pertanian secara proporsional dan kontekstual; dalam arti menyegarkan kembali vitalitas; memberdayakan kemampuan dan meningkatkan kinerja pertanian dalam pembangunan nasional dengan tidak mengabaikan sektor lain.

Revitalisasi Pertanian merupakan acuan dalam penyusunan Rencana Pembangunan Pertanian (RPP) tahun 2005-2009. RPP tahun 2005-2009 menetapkan tujuan pembangunan pertanian yang akan dicapai, yaitu: (1) Membangun SDM aparatur profesional, petani mandiri dan kelembagaan pertanian yang kokoh; (2) Meningkatkan pemanfaatan sumberdaya pertanian secara berkelanjutan; (3) Memantapkan ketahanan dan keamanan pangan; (4) Meningkatkan daya saing dan nilai tambah produk pertanian; (5) Menumbuhkembangkan usaha pertanian yang akan memacu aktivitas ekonomi perdesaan; dan (6) Membangun sistem manajemen pembangunan pertanian yang berpihak kepada petani.

PERAN PEMUDA DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN

Dengan pemilikan lahan rata-rata kurang dari 0,5 hektar, infrastruktur pertanian yang kurang memadai, organisasi petani dan kualitas sumberdaya manusia yang lemah, masih rendahnya dukungan kelembagaan dan manajemen pengelolaan pertanian yang belum mengarah ke kaidah bisnis, telah mengakibatkan usahatani menjadi kurang menarik secara ekonomis, karena belum mampu memberikan jaminan sebagai sumber pendapatan untuk hidup secara layak.

Segala permasalahan yang dialami petani dalam usaha taninya dan bidang pertanian dalam konteks pembangunannya, setidaknya dapat dicarikan jalan keluar melalui upaya pencapaian 6 tujuan pembangunan pertanian. Untuk itu, beberapa peran yang dapat diambil oleh para pemuda antara lain adalah :

1. Mengambil peran besar dalam proses pembuatan kebijakan sektor pertanian

Kebijakan-kebijakan pertanian yang dihasilkan oleh Pemerintah ataupun oleh Pemerintah dan DPR perlu mendapat masukan dan pengawalan yang kritis dan konstrkutif dari para pemuda yang reformis. Pada fase inilah, para pemuda dapat mengeluarkan gagasan-gagasan cemerlangnya guna kemajuan petani dan pertanian Indonesia.

Namun demikian, seyogyanya perlu ada pengetahuan dan pemahaman yang cukup mendalam dan komprehensif terkait kondisi riil pertanian dengan segala permasalahannya serta dengan formulasi jalan keluarnya. Jangan sampai, para pemuda yang memiliki idealisme dan kekuatan cara berpikir tidak mampu mengoptimalkan apa yang mereka miliki untuk peka terhadap permasalahan yang terjadi. Apabila para pemuda memiliki pengetahuan yang mendalam dan punya data-data empirik, tentunya akan sangat bermanfaat bagi pembuatan kebijakan di sektor pertanian.

Peran besar tersebut tidak hanya berlaku di tataran nasional. Peran yang sama juga bisa diberikan dalam tataran lokal kewilayahan, terutama di era otonomi daerah. Untuk daerah-daerah agribisnis seperti Kabupaten Tegal, para pemuda diharapkan kritis memberikan masukan penting bagi Pemerintah Daerah. Keberpihakan Pemerintah Daerah, baik dalam konteks kebijakan ataupun alokasi anggaran untuk sektor pertanian perlu dikritisi secara cerdas. Adalah hal yang tidak logis apabila sebagian besar penduduk Kabupaten Tegal hidup dari pertanian dan sebagian besar wilayahnya juga wilayah pertanian, namun alokasi anggarannya sangat kecil dibanding sektor yang lain. Membangun pertanian dengan mengentaskan kemiskinan petani – yang notabene bagian penduduk terbesar – adalah sama dengan menyelesaikan sebagian besar masalah yang kita hadapi.

2. Melakukan pengawasan terhadap program-program pertanian

Peran penting tidak hanya berhenti dalam kontribusi pemikiran kebijakan. Satu hal yang juga mendesak adalah bagaimana agar program yang telah disusun dapat direalisasikan sesuai dengan sasaran dan target yang telah ditetapkan. Banyak program pemberdayaan petani ataupun bantuan untuk petani ternyata tidak dinikmati oleh petani,.

Yang paling nyata dan mudah kita temukan adalah tidak dinikmatinya subsidi pupuk oleh petani. Pemerintah melalui Departemen Pertanian telah menganggarkan lebih dari Rp. 7 triliun di tahun 2008 dan direncanakan sekitar Rp. 27 triliun untuk tahun 2009 untuk mensubsidi pupuk. Namun, upaya tersebut tampaknya tidak dinikmati petani di lapangan. Di Kabupaten Tegal misalnya, harga eceran pupuk berksar antara Rp. 65 ribu sampai Rp. 75 ribu per kantung. Padahal, dengan subsidi yang diberikan harga tertingginya adalah Rp. 60.000/kantung.

Kenapa hal tersebut terjadi? Setidaknya, kita dapat melihat bahwa proses pengawasan yang wewenangnya diberikan kepada daerah melalui pembentukan Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida (KP3) tidak berjalan optimal. Disinilah peran pemuda dapat diberikan untuk menambal lemahnya sistem pengawasan tersebut.

3. Melakukan pencerdasan, pendampingan, dan upaya pemberdayaan petani

Pemuda pada dasarnya adalah bagian dari masyarakat. Pemuda Tegal pun juga demikian. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang sebagian besar hidup dari sektor pertanian. Keberadaan pemuda di tengah masyarakat setidaknya dapat memberikan peluang pemberdayaan bagi masyarakat yang rata0rata berpendidikan rendah.

Salah satu hal yang dapat diberikan dalam konteks pencerdasan, pendampingan, dan pemberdayaan petani adalah dengan turut serta membangun kelembagaan petani. Berdasarkan pengalaman masa lalu, pengembangan kelembagaan petani cenderung tidak berlangsung lestari karena pengembangan kelembagaan tersebut tidak secara konsisten disertai dengan pemberdayaan petani. Pemberdayaan petani merupakan upaya-upaya yang dilakukan dalam rangka meningkatkan kemampuan petani sehingga secara mandiri mampu mengembangkan diri dan usahanya secara berkelanjutan.

Pemberdayaan petani perlu dilakukan melalui penciptaan iklim kondusif yang memungkinkan petani berkembang, memperkuat potensi dan daya saing yang dimiliki petani, dan memberikan perlindungan yang secukupnya. Untuk itu, pemberdayaan petani merupakan proses pembelajaran yang harus dilaksanakan secara terus-menerus guna meningkatkan partisipasi dan kemampuan petani (pelaku usaha pertanian). Sasaran pemberdayaan adalah meningkatnya kemampuan petani (pelaku usaha pertanian) untuk mengelola usaha dan memanfaatkan akses terhadap sumberdaya lahan, air, alat dan mesin pertanian, permodalan, teknologi dan informasi usaha/pasar.
4. Memberikan advokasi-advokasi pertanian

Ketidakberdayaan petani menghadapi sistem yang tidak menguntungkan perlu mendapat pendampingan dari para pemuda. Ketidakberdayaan mereka menghadapi sistem ijon, rentenir, ataupun ketidakberdayaan menghadapi tengkulak ataupun pedagang dapat dijadikan wahana para pemuda untuk memberikan kontribusinya.

Contoh yang dekat di Kabupaten Tegal adalah advokasi petani tebu. Kelemahan posisi petani tebu dalam penentuan rendemen oleh pihak pabrik tentunya dapat diminimalisisr oleh lembaga pemuda. Para pemuda dapat berperan dalam pengawasan penentuan rendemen yang transparan dan jujur. Apabila ini dilakukan, nilai kerugian yang dialami petani akibat penentuan rendemen yang dinilai kurang tepat dapat dikurangi.

5. Menjadi SDM pembangunan pertanian

Saat ini banyak pemuda Indonesia yang memiliki cita-cita berkiprah diluar sektor pertanian. Tentunya, hal tersebut adalah hal yang wajar dan sah-sah saja. Namun demikian, setidaknya masih diperlukan para pemuda yang memiliki komitmen utnuk terjun membangun sektor pertanian.
Tren resesi dunia yang mengarah pada krisis pangan dan energi setidaknya akan menjadi peluang besar bagi tumbuhnya usaha tani atau usaha sektor pertanian. Apabila para pemuda yang memeiliki kekuatan dan semangat yang tinggi terjun ke dunia pertanian, tentunya negara ini masih punya harapan untuk melihat naiknya kesejahteraan petani Indonesia.

*)Disampaikan pada Seminar Nasional Kepemudaan ”Peran Pemuda Pada Bidang Pertanian, Pendidikan, dan Perjalanan Demokrasi”, IMT Ciputat di Gedung Rakyat, Slawi, 21 Agustus 2008
**)Wakil Ketua Komisi IV DPR RI 2004-2009/F-PKS

Ttd. Aku

About IMT ( Ikatan Mahasiswa Tegal ) Ciputat

Organisasi independen mahasiswa yang terdiri dari mahasiswa asal Tegal dan ada keterkaitan dengan Tegal yang menimba ilmu di daaerah ciputat dan sekitarnya agar menjadi wadah persatuan dan pengembangan dalam memajukan skill dan knowledge masing-masing mahasiswa sehingga menjadi pribadi yang bermanfaat baik untuk diri sendiri dan masyarakat Tegal sekitarnya.

Posted on 3 Januari 2009, in Tulisan Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Potensi Luar Biasa MLM Agrobisnis!
    Baru beberapa bulan ini, tepatnya mulai 3 bulan yang lalu saya tertarik pada MLM Agrobisnis. Awal mula ketertarikan saya karena saran salah seorang teman untuk mencari orang MLM untuk dijadikan tim marketing di usaha saya. Berkat saran seorang teman tersebut saya mendatangi saudara saya yang sudah menjadi leader di MLM produk pertanian dan produk kesehatan organik. Begitu kami bertemu dan bertukar fikiran, saya jadi penasaran ingin melihat secara langsung bagaimana proses training yang diadakan MLM yang diikuti saudara saya.

    Sebelum saya bertemu saudara saya dan menghadiri seminar nasional yang diadakan perusahaan MLM tersebut, saya termasuk salah satu orang yang kurang tertarik dengan MLM. Saya menganggap MLM sebagai pekerjaan yang kurang menjanjikan. Tapi begitu saya datang di seminar tersebut dan mendapatkan presentasi yang sangat bagus, mulai timbul ketertarikan dalam diri saya. Ketertarikan saya yang pertama dari produk yang dipasarkan perusahaan MLM ini.

    Perusahaan ini memasarkan produk-produk berbahan organik berupa PUPUK ORGANIK dan SUPLEMEN KESEHATAN . Tentang produk, saya berfikir bahwa ini adalah sebuah bisnis besar yang sangat mudah dipasarkan, karena apa?, karena kita tahu bahwa populasi calon pengguna dan repeat order yang akan terjadi sangat menjanjikan bahwa bisnis ini akan menjadi samngat besar. Produk masa depan yang unik dan sangat dibutuhkan petani dan masyarakat yang ingin atau butuh sehat ini berbeda dari yang lain. Kita tahu, saat ini produk organik mulai menggeliat di negara kita seiring kesadaran masyarakat akan gaya hidup sehat. Ketertarikan saya berikutnya semakin besar setelah mengikuti pertemuan kelompok di MLM.

    Kekuatan duplikasi di bisnis MLM yang membuat saya tersadar dan terkesan akan potensi bisnis ini. Bagaimana tidak, semua ilmu, kemampuan, dan pengalaman seorang upline yang didapatkan diberikan secara total pada para downline-nya. Tidak ada istilah pelit ilmu di bisnis MLM, karena semakin banyak ilmu yang diberikan pada para downline-nya semakin besar pula potensi bertambahnya omset dan penghasilan. Hebatnya lagi, ilmu yang diberikan merupakan ilmu marketing praktis dengan tingkat keberhasilan tinggi, bukan sekedar teori belaka. Ilmu seperti inilah yang sangat sulit didapatkan di pendidikan formal, seandainya ilmu marketing MLM diajarkan pula di perguruan tinggi saya yakin angka pengangguran bagi para sarjana akan sangat kecil.

    Ejekan dan cemoohan sempat saya dapatkan dari istri saya setelah saya memutuskan akan menyisihkan 20% hari kerja saya untuk memasarkan produk organik ini. Tapi kini istri saya mulai sadar setelah penghasilan dari bisnis MLM saya mencapai lebih dari 1 juta (bonus+laba penjualan langsung) dalam satu bulan tanpa harus mengganggu pekerjaan utama saya. Pada bulan Januari 2009 saya putuskan harus bisa meraih posisi M dengan penghasilan 1 s/d 5 juta dalam satu bulan.

    Beberapa minggu terakhir sebenarnya saya sudah puas dengan hasil seperti itu, tetapi saya dibuat penasaran lagi di bisnis MLM ini karena ternyata saya baru tahu teman sesama profesi saya yang bergabung juga di MLM ini, sudah ada yang mempunyai penghasilan di atas 20 juta perbulan, padahal belum ada 2 tahun dia bergabung. Kalau teman saya bisa, pasti saya bisa. Insya Allah dengan dukungan para upline dan downline saya, serta kemauan keras saya untuk terus belajar dan menduplikasikan ilmu saya pada para downline, ditambah dengan menambah prosentase kerja pada bisnis MLM saya, 6 bulan lagi saya akan bisa seperti teman saya. Amin….

    Omyosa : 08159927152

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: