Analisis Novel “Sukreni Gadis Bali”

bahan kajian.

Perspektif Sosiologis dalam

Novel “Sukreni Gadis Bali “  (1936)

Karya A. A. Panji Tisna

Karya sastra merupakan bagian dari kebudayaan, Kelahirannya di tengah-tengah masyarakat tidak luput dari pengaruh sosial dan budaya. Pengaruh tersebut bersifat timbal balik, artinya karya sastra dapat memengaruhi dan dipengaruhi oleh masyarakat. Karya sastra adalah gambaran kehidupan. Walaupun sebagai gambaran, karya sastra tidak pernah menjiplak kehidupan. Menurut Saini K. M. (dalam http://grms.multiply.com/journal/item/26), karya sastra merupakan hasil pemikiran tentang kehidupan yang berbentuk fiksi dan diciptakan oleh pengarang untuk memperluas, memperdalam dan memperjernih penghayatan pembaca terhadap salah satu sisi kehidupan yang disajikannya. Pengarang adalah anggota masyarakat dan lingkungannya. Dengan demikian, terciptanya sebuah karya sastra oleh seorang pengarang secara langsung atau tidak langsung merupakan kebebasan sikap budaya pengarang terhadap realitas yang dialaminya.

Oleh sebab itu, dalam proses penciptaan karya sastra lebih banyak disebabkan oleh kontinuitas kehidupan yang tidak pernah habis antara nilai realitas sosial dengan nilai ideal dalam diri pengarang. Sebagaimana pendapat Saini K.M di atas, Sapardi Djoko Damono menegaskan bahwa sastra menampilkan gambaran kehidupan itu sebagai suatu kenyataan sosial yang menyangkut hubungan masyarakat dengan orang perorang, antara manusia dan antara peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Menurut Sapardi Djoko Damono (dalam http://grms.multiply.com/journal/item/26), bagaimanapun juga peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang yang menjadi bahan sastra adalah pantulan hubungan seseorang dengan orang lain atau dengan masyarakat. Selaras dengan pendapat Sapardi Djoko Damono tersebut, Jakob Sumardjo (dalam http://grms.multiply.com/journal/item/26) menyatakan bahwa “perkembangan individu sastrawan banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan, termasuk masyarakatnya. Seorang sastrawan belajar menjadi sastrawan dari lingkungan masyarakatnya. Latar belakang sosial dan budaya masyarakat memengaruhi bentuk pemikiran dan ekspresi sastrawan”. Jadi, karya sastra seorang pengarang mengandung nilai-nilai kognitif konteks budaya dan nilai-nilai ideal kehidupan pengarang.

Dari penyataan di atas Nampak jelas pentingnya bagi kita mengetahui kondisi social yang mempengaruhi terciptanya suatu karya sastra. Oleh karena itu, dalam kesempatan kajian ini, saya memfokuskan pembahasannya terhadap kehidupan social yang yang terjadi di Indonesia pada tahun lalu yaitu sekitar tahun 1936 khususnya di Bali  dalam novel Sukreni Gadis Bali.

Anak Agung Panji Tisna; Feminis dan Humanis

Anak Agung Panji Tisna (lahir Februari 1908 – wafat 2 juni pada umur 70 tahun), atau yang sering dikenal dengan Agung Nyoman Panji Tisna adalah keturunan ke-11 dari diansti raja Buleleng di Bali Utara.  Oleh masyarakat luas beliau dikenal sebagai penngarang novel. Roman-romannya diterbitkan oleh Balai Pustaka, yang semuanya mengambil tempat di Bali, (http://id.wikipedia.org/wiki/Anak_Agung_Pandji_Tisna)
Dalam tahun 1935 oleh balai pustaka diterbitkan sebuah roman berjudul Ni Rawit Pendjual orang yang melukiskan kebengisan masyarakat feudal di Bali. Dibandingkan dengan roman-roman yang ditulis oleh pengarang kelahiran Sumatera, Roman atau novel buah tangan Panji Tisna ini terasa paling hidup dan lebih cepat geraknya.  Tokoh-tokoh yang digambarkan lebih keras dan kejam. Roman ini kemudian disusul oleh roman  atau novel Panji Tisna yang kedua yakni sukreni Gadis bali yang juga melukiskan kehidupan masyarakat bali yang kejam dank eras. (ikhtisar  sejarah sastra Indonesia). Novel ini merupakan salah bentuk kritik pengarang yang tidak setuju kepada beberapa cara dan kepercayaan yang ketika itu masih hidup dan berkembang pada masyarakat bali.

Feminis. Panji Tisma adalah fenomena yang secara terus menerus menunjukan interlasi dengan zaman. Ia menjadi inspirasi dan motivasi  kreatif  bagi pengarang lain di Bali. Panji Tisna merupakan salah satu pengarang feminis yang merokonstruksi tokoh-tokoh wanitanya untuk melakukan perjuangan  cultural. Melalui penggambaran tokoh-tokoh wanita panji tisna mengambarkan kondisi social yang terjadi dalam karya sastra.

Humanis. Dengan spirit kasih, salah satu bagian dari sikap humanis disajikan dalam sukreni gadis bali melalui tokoh laki-laki Ida Gde Aseman. Demikian juga terefleksi dari sikap Sukreni pasca pemerkosaan atas dirinya, ditunjukan dengan kearifan tanpa perlawanan yang reaksioner.

Melihat Kondisi Sosial Dalam Novel Sukreni Gadis Bali (Perspektif Sosiologis)

Seorang penngarng, lewat karya-karnya mencoba mengungkapkan fenomena kehidupan manusia yakni berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ini. Karena pada hakikatnya karya sastra berisi rekaman, rekaan, dan ramalan kehidupan manusia, maka pada gilirannya karya satra, sedikit banyak , acapkali mengandung fakta-fakta sosial . malahan seperti yang diungkapkan Grebsitein (1968), karya sastra dapat mencerminkan perkembnagan sosiologis atau menunjukan perubahan-perubahan yang halus dalam watak cultural.

Dalam kaitannya dengan hal tersebut, novel sabagian besar , paling mendekaati gambran social dibandingkan dengan puisi dan drama.  Melalui penceritaan tokoh, latar, dan unsu-unsur karya sastra  yang lain seorang penagarang  mendeskripsikan apa yang ingin disampaikanknya (amanat) baik iru tersurat maupuan tersirat.

Peristiwa yang digambarkan dalam novel sukreni gadis bali berkisar pada keadaan masyarakat Bali daam menjalni rutinitas kesehariannya. Pemaparan mengenai peristiwa pada masa itu, memberikan kesan yang kuat, bagaimana kondisi masyarakat pada periode itu.

Kondisi masyarakat di bali Pada masa itu digambarkan oleh pengarang melalui penggambaran  masyarkat yang kejam dan keras. Persaigan bisnis yang dialami tokoh Men Negara dengan Pan Gara menyebabkan Men Negara menghalalkan berbagai cara agar kedainya tetap laris dan dikunjungi oleh banyak orang, meski menggunakan kecantikan anaknya Ni Negari. Melalui cara seperti itulah Men Negara bertahan hidup.

Kebobrokan masyarkat yang terjadi pada masyarakat Bali, bukan hanya terjadi pada masyarakat  kalangan  menengah ke bawah (Man Negara dan Pan Gara). Namun kebobrokan itu juag terjadi disetiap lapisan masyarakat. Pemunculan sikap diskriminasi yang dilakukan oleh menteri polisi “I Gusti Made Tusan” memberikan gambaran yang jelas tentang realita social pada waktu itu dan mungkin budaya itu masih ada pada masa sekarang. Tidak adanya komitmen yang teguh yang dipegang oleh penguasa menjadikan salah satu satu pihak dalam hal ini masyarkat tertindas. Kesetiaan Aseman pada menteri polisi begitu mudah dikalahkan dengan adanay wanita cantik yang merayu untuk memaafkan kejahatah yang telah dilakukan.

Pemunculan tokoh utama “sukreni” dalam novel tersebut memperjelas kondisi social yang ada dalam masyarakat tersebut, dan memperjelas kekhasan dari sanag penagarang (feminisme). Panji Tisna melalui tokoh novelnya melakukan sebuah perjuangan cultural untuk mematahkan dominasi paham patriaki yang dalam beberapa hal banyak mengeliminasi wanita bahkan mencabik-cabiknya. Ketika tokoh Sukreni tidak melakukan perlawanan terhadap perlakuan biadab yang dilakukan menteri polisi dan Men Negara, Panji Tisna dicurigai melaukan tindakan penistaan terjafap wanita. Namun ketika ada upaya memahi teks secara menyeluruh, khususnya ketika pengarang memasukan hukum karma “balasan sang Widhi” dalam kosntruksi tematisnya , sesungguhnya keberpihakan panji Tisna kepada wanita sangat jelas terlihat.

Melalui tokoh Sukreni Panji Tisna memberikan kesaksian bahwa ada kaum hawa yang termarginaliasi dan diposisikan subordinat dari peran laki-laki pada masyarakat. Dalam hal ini tidak kami jumpai satupun bentuk kebahagian sejati yang dimiliki oleh seorang perempuan. Men Negara meski dalam awalnya terlihat bahagia namun karena adanaya hukum karma, kedudukannya menjadi lebih rendah (tidak dikaitkan dengan hukum karma).

Sebagai feminis, sesungguhnya panji tisna memberikan kesaksian atas realita nasib ketika kaya itu diciptakan, bahkan masih ada wujud kekerasan terhadap wanita samapai saat ini. Di sisi lain, panji tisna dalam menaruh simpati pada nasib wanita tidak hanya dibangun melalui tokoh sukreni, tetapi juga pada Tokoh Ida gde Swamba, pacar Sukrenik yang mau menerima Sukreni apa adanya sekalipun sudah menajdi  korban pemerkosan. Hal ini terlihat dalam dialog:

“ah, aseman, boleh jadi begitu kata perempuan itu, tetapi eangkau tidak boleh beresembunyi-bersembunyi kepadku. Ingat, kalau ia mendapat sengsara , siapa yang menolong dia? Aku kira, kau patut sekali…..sebab itu hendaklah engkjau tunjukan, di mana dia sekarang. Aseman walaupun ia telah….rusak, tidak berbeada padaku sekarang dahulu. Sudah nasibnya demikian tidak dpat disalahkan kepadanya, jika ia tahu apa yang akan terjadi atas dirinya pada malam itu..” kata Ide Gde .

Melalui sudut pandang yang digunakan yakni sudut pandang kemahatahuan, Panji  tisna begitu jelas mengambarkan kondisi social yang terjadi pada masyarakat bali pada waktu, mulai dari adanya diskriminasi perempuan, persaingan bisnis, perampopakn, dan berabagai kekerasan yang yang terjadi pada waktu itu.

Simpulan

Analisis diatas menunjukan bahwa permaslahan sosiologis dalm hal ini kondisi masyarakat tidak dapat dilepaskannya perannya. Oleh karena itu adanya pendekatan sosiologis dalam kritik sastra diperlukan. Karena pada hakikatnya kesusastraan berurusan denagn dunia manusia

SINOPSIS

Men Negara berasal dari Karangasem, Bali. Ia meninggalkan daerah itu karena suatu persoalan dengan suaminya. Buleleng adalah tempat tujuannya. Mula-mulai ia menumpang di rumah seorang haji yang mempunyai tanah dan kebun yang luas. Namun, karena Men Negara rajin bekerja dan hemat, ia kemudian dapat memiliki kebun sendiri. Ketika pergi dari Karangasem, ia meninggalkan seorang anak yang baru berusia delapan bulan. Di tempat ini ia melahirkan dua orang anak bernama I Negeri yang berparas cantik itu dapat menarik para pekerja pemetik kelapa untuk singgal di warungya. Disamping itu, Men Negara pun pandai memasak sehingga masakannya selalu disukai oleh para pekerja itu. Di antara mereka yang datang ke warung Men Negara adalah I Gde Swamba, seorang pemilik kebun kelapa itu. Tak luput dari semua itu, Ni Negeri dan sudah tentu pula ibunya, mengharapkan agar anak gadisnya itu dapat memikat I Gde Swamba menjadi suaminya.

Suatu ketika, datanglah seorang manteri polisi bernama I Gusti Made Tusan ke daerah itu. Sebagai manteri polisi, ia disegani dan ditakuti penduduk. Banyak sudah kejahatan yang berhasil ditumpasnya. Ini berkat kerjasamanya dengan seorang mata-mata bernama I Made Aseman. Siang itu hampir saja Men Negara harus berurusan dengan I Gusti Made Aseman karena I Made Aseman mengetahui bahwa Men Nagara telah memotong babi tanpa surat izin dari yang berwenang. I Made Aseman sangat berharap agar Men Nagara dipenjarakan di Singaraja karena kesalahannya itu. Jika Men Nagara negara masuk penjara, para pemetik kelapa akan pindah ke warung iparnya. Namun, apa yang diharapkan I Made Aseman sia-sia belaka karena tuannya, I Gusti Made Tusan telah terpikat oleh tutur kata dan senyum Ni Negeri. Siang itu, Ida Gde Swamba dan para pemetik kelapa sedang makan dan minum di warung Men Nagara. Tanpa sepengetahuan mereka, datang seorang gadis bernama Luh Sukreni ke warung Men Nagara. Ia mencari I Gde Swamba untuk urusan sengketa warisan dengan kakaknya, I Sangia yang telah masuk agama kristen. Menurut adat dan agama Bali, jika seorang anak beralih agama lain, baginya tak ada hak untuk menerima harta warisan.

Namun kedatangan Luh Sukreni itu justru membuat Men Nagara dan Ni Negeri iri hati, apalagi Sukreni yang lebih cantik itu menanyakan Ida Gde Swamba. Ketika Menteri polisi itu tampak tertarik pada Sukreni dan berniat menjadikan Ni Sukrenis sebagai wanita simpanannya, dicarinyalah siasat agar keinginan Menteri Polisi terpenuhi. Pada kedatanganya yang kedua, Luh Sukreni kembali menanyakan Ida Gde Swamba di warung Men Negara. Namun orang yang dicarinya tak ada. Dengan ramah dan senyum manis, ibu dan anak menerima Luh Sukreni bahkan mereka memintanya untuk bermalam di warungnya sampai Ida Gde Swamba tiba. Tanpa prasangka burk, Luh Sukreni menerima tawaran itu. Saat itulah Men Negara menjalankan siasat jahatnya. Pada malam harinya, Luh Sukreni diperkosa oleh I Gusti Made Tusan. “Terima kasih Men Negara, atas pertolonganmu itu, hampir-hampir tak berhasil tetapi…”. Begitulah I Gusti Made Tusan menyatakan kesenangannya atas siasat busuk Men Negara. Sejak kejadian itu Luh Sukreni pergi entah kemana.

Alangkah terkejutnya Men Negara ketika I Negara, anaknya yang tidak bersama I Sudiana teman seperjalanan Luh Sukreni, mengatakan bahwa Ni Sukreni adalah anak kandung Men Negara sendiri. Ayah Ni Sukreni, I Nyoman Raka telah mengganti nama Men Widi menjadi Ni Sukreni. Perubahan nama itu dimaksudkan agar Ni Sukreni tak dapat diketahui lagi oleh ibunya. Men Negara sangat menyesal karena ia telah mengorbankan anaknya sendiri.

Ni Sukreni tak mau kembali ke kampungnya. Ia sangat malu apabila kejadian itu diketahui oleh ayahnya dan orang-orang di kampungnya. Ia mengembara entah kemana. Namun, Pan Gumiarning, salah seorang sahabat ayahnya, mau menerima Ni Sukreni untuk tinggal di rumahnya. Tak lama kemudian. Ni Sukreni melahirkan seorang anak dari hasil perbuatan jahat I Gusti Made Tusan. Anak itu diberi nama I Gustam.

Takdir telah menentukan Ni Sukreni dapat bertemu kembali Ida Gde Swamba. Semua itu berkat pertolongan I Made Aseman yang pada waktu itu sedang menjalani hukuman di Singaraja karena telah memukul I Negara sampai tak sadarkan diri. Ida Gde Swamba berjanji akan mengurus dan membiayai anaknya itu.

I Gustam anak sukreni Sternyata tumbuh dengan perangai dan tabiat yang kasar. Sewaktu berusia dua belas tahun, ia sudah berani memukul kepala ibunya. Setelah dewasa, ia berani pula mencuri sampai akhirnya masuk tahanan polisi. Didalam tahanan, I Gustam justru banyak memperoleh pelajaran cara merampok dari I Sintung, salah seorang perampok dan penjahat berat yang sudah terkenal keganasannya, ahli dalam hal perampokan dan kejahatan.

Setelah keluar dari penjara, I Gustam membentuk sebuah kelompok. I Sintung yang ketika di dalam penjara sebagai gurunya, kini bertekuk lutut di bawah perintah I Gustam yang tak segan-segan membunuh siapa saja yang menentang perintahnya. Pada suatu malam, kelompok yang dikepalai I Gustam melaksanakan aksi perampokan di warung Men Negara. Namun rencana itu sudah diketahui oleh aparat keamanan. Perampokan di Men Negara mendapat perlawanan dari polisi yang dipimpin oleh I Gusti Made Tusan. I Gusti Made Tusan sendiri tidak mengenal bahwa musuh yang sedang dihadapinya adalah anaknya sendiri. Maka ketika I Gustam hampir putus asa karena terkena kelewang ayahnya, I Gusti Made Tusan baru mengetahui bahwa yang terbunuh itu adalah anaknya sendiri, setelah ia mendengar teriakan I Made Aseman. Akhirnya ayah dan anak itupun tersungkur dan mati

Kajian IMT Ciputat

Senin 18 April 2011

Hendri Pradiyanto

About IMT ( Ikatan Mahasiswa Tegal ) Ciputat

Organisasi independen mahasiswa yang terdiri dari mahasiswa asal Tegal dan ada keterkaitan dengan Tegal yang menimba ilmu di daaerah ciputat dan sekitarnya agar menjadi wadah persatuan dan pengembangan dalam memajukan skill dan knowledge masing-masing mahasiswa sehingga menjadi pribadi yang bermanfaat baik untuk diri sendiri dan masyarakat Tegal sekitarnya.

Posted on 24 April 2011, in Acara Kajian Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat, Makalah Kajian Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat, Olah Bahasa. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: